Yoih banget tuh quote! Move on itu memang susah dideskripsikan. Apa sih? Move on? Nggak galau? Step forward? Ya gitu deh. Bikin mikir.
Saya punya teori abal-abal, yang saya dapatkan dari hasil bertapa tapi tentu saja belum teruji kebenarannya. Oke! Menurut saya, move on itu adalah kondisi dimana kita udah nggak emosional lagi menceritakan kejadian yang di masa lalu membuat emosional. *garuk kepala* Ngerti maksudnya? Gitu deh pokoknya. Intinya "udah biasa aja" gitu.
Contohnya? Gini, misalnya saya adalah Pipik Dian Irawati istrinya Uje.
Misalnya woy misalnyaaaaa, udah nggak usah melotot melotot gitu kali. Saya juga nyadar beda di antara kami itu jauuuuhhhhh banget :/
Back! Misalnya saya adalah Umi Pipik, pas ditinggal Uje meninggal, saya nangis-nangis. Sampai pingsan. Nggak terima sama keadaan. Hari selanjutnya, kalau saya ditanya kejadian meninggalnya Uje, saya cerita masih sambil sesekali nangis. Tapi hari berikutnya lagi, berikutnya lagi, berikutnya lagi, saya sudah biasa aja ketika diminta menceritakan kronologi kejadiannya. Menceritakannya sudah bisa sambil senyum, udah nggak nangis-nangis lagi, udah IKHLAS. Nah, tepat disitulah menurut saya, Umi Pipik--eh saya maksudnya, kan tadi saya berperan sebagai Umi Pipik, eeaa--udah move on.
Ada lagi nih. Misalnya saya barusan putus sama pacar. Ini juga misalnya doang pliisssss, saya kan belum pernah paca. . .ah sudahlah lupakan! Nah, pasca putusnya saya dengan mas pacar, datanglah teman-teman saya. Biasalah yaaa, kalau udah sama temen pasti ditanyain, "Eh, kok bisa putus? Gimana ceritanya?" Ketika saya menjawab, "Aaaaa, udah nggak usah dibahas lagi!" itu justru menandakan bahwa saya belum move on? Why? Karena saya masih galau kalau menceritakan or mengingat-ingat masalah itu, makanya saya nggak mau cerita. Tapi ketika saya sudah bisa menceritakan masalah itu dengan biasa aja, udah tanpa galau lagi, tanpa ngotot-ngotot lagi nyalahin si the ex, tanpa menye-menye dengan mata sembab, disitulah saya sudah move on.
Terus, ada nggak sih move on tapi masih galau? Nggak ada yang namanya move on kok masih galau, itu kata temen saya. Dan saya menambahi, galau di sini adalah galau yang dialami hampir setiap hari pasca kejadian itu, misal tadi kejadian putus. Beda lagi dengan galau yang dialami sesekali. Misalnya nih, tiga tahun pasca putus. Udah move on, tapi tiba-tiba galau karena keinget salah satu kejadian so sweet sama the ex gara-gara nemu barang kenangan atau foto. Itu bukan berarti belum move on.
Hanya karena kita kangen atau galau, itu bukan berarti kita membutuhkan dia kembali ke kehidupan kita. Karena kangen dan galau itu memang bagian dari proses move on.
Gilaaaaaak! Barusan saya ngomong apaan? Kesambet nih pasti kesambet :/
Saya nggak maksa kamu yang baca mengiyakan tulisan ini, because saya sadar banget ini cuma teori hoax dari seorang perempuan labil yang suka sotoy. Hahahaha :p
Tampilkan postingan dengan label IMO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMO. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Mei 2013
Rabu, 08 Mei 2013
Bahagia Itu Sederhana
Bahagia itu sederhana :
- Saat bisa menyelesaikan tugas padahal deadline masih lama
- Saat bisa mengeksekusi ide cerita dengan baik
- Menikmati senja di Sabtu sore
- Melihat kelinci piaraan makan dengan lahapnya
- Cucian kering
- Menginap di kosan bareng temen-temen, menceritakan banyak hal, dan tidur larut malam
- Saat masak dan masakan habis dimakan bareng-bareng dengan lahapnya
- Saat merindukan seseorang, baru niat mau SMS, eh dia udah SMS duluan
- Mencoret to do list di buku agenda
- Berkumpul bersama keluarga di malam hari, bercanda, menceritakan banyak hal
- Melihat bapak meluk ibu
- Janji bertemu dan kongkow bareng temen-temen yang udah lama nggak ketemu
- Mengalami kejadian sosweet kayak di FTV
- Saat rencana berjalan dengan baik
- Saat menerima "Mixed Taste"
- Saat bisa berbuat baik kepada orang lain
- Ngeteh pagi bersama keluarga
- Keluar ruangan di hari terakhir ujian
- Melihat orang lain sebel sama Dirga sehabis baca cerpen "WIN"
- Duduk di teras rumah, halaman bersih, kerjaan beres, rileks
- Nemu duit nyelip di saku di saat-saat bokek akhir bulan
- Buka album foto jaman dulu, dan ngakak sambil komen-komen nggak jelas
- Secangkir kopi di malam hari, laptopan, nulis, sambil dengerin musik lewat headset
- Jalan-jalan di sawah di sore hari dengan cuaca cerah
- Koneksi internet nggak lemot
- Es teh segar di siang hari yang panas
- Kumpul bareng temen SMA, menceritakan kenangan WPBP, KBTB, JSE, ESL
- Duduk di luar pas malam cerah dan banyak bintang
- Dapet kiriman pulsa nyasar
Kamis, 02 Agustus 2012
Pujian itu Ujian
@KamusCewek
Cewek itu
sebenernya selalu pengen dipuji, meski pada saat dipuji dia akan bilang “nggak
kok” #KamusCewek
Disadari
atau nggak, kalimat di atas itu bener. Eh bentar-bentar, ini aku nulis
berdasarkan apa yang aku pikirkan dan aku rasakan. In My Opinion. Gatau juga,
nanti yang aku tulis itu berlaku untuk semua cewek atau nggak. Semoga sih iya,
mehehe.
Sabtu, 14 Juli 2012
Ketika Kita Disakiti
Pernah disakitin? Gimana rasasanya? Nyesek?
Kalau disakitin, kamu pengennya ngapain? What will you do?
Kalau aku sih pengennya bales nyakitin, kalau bisa LEBIH sakit lagi. PE-NGEN-NYA.
Geregetan sih soalnya, rasanya pengen bilang, "Dikira cuma kamu yang bisa bikin nyesek? Kamu bisa segini, aku bisa bikin kamu lebih nyesek dari ini!" Kalau mau sih bisa. KALAU MAU. Tapi kadang keinginan balas dendam itu terurungkan, karena. . .
Pertama
Akan sangat tidak dewasa apabila kita balas menyakiti orang yang telah menyakiti kita. Kita hanya akan menjadi sama tidak dewasanya dengan dia.
Kedua
Hal terbaik yang bisa kita lakukan kepada orang yang telah menyakiti kita adalah berbuat baik kepadanya. Beban moral yang harus ditanggung orang yang menyakiti itu lebih besar daripada orang yang disakiti. So, berbuat baik kepada orang yang telah menyakiti kita itu setidaknya akan membuat dia merasa bersalah.
Ketiga
Membuat dia menyesal telah menyakiti kita dengan menunjukkan bahwa kita terlalu berharga untuk disakiti. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat dia menyesal telah menyakiti kita.
Yuhuuu, sadis banget kayaknya postingan kali ini :D
Jumat, 13 Juli 2012
Karena Sahabat Tahu
Karena sahabat tahu mana senyum 'beneran' dan mana senyum 'pura-pura'
Ada sepasang sahabat, sebut saja A dan B. Suatu ketika A mendapati B sedang kelihatan galau.
Di posisi A
Nyesek loh rasanya ketika menanyai sahabat yang sedang kelihatan galau dan mendapat jawaban, "Aku nggak gapapa, kok". Pertama, karena seorang sahabat tahu bahwa sebenarnya kamu ada apa-apa. Kedua, merasa nyesek karena itu rasanya sahabat kita tidak percaya untuk bercerita kepada kita. Ketika kita berada di posisi A, sebenernya kita akan lebih senang jika B bercerita kepada kita.
Di posisi B
Terkadang ketika memiliki masalah, kita butuh waktu untuk sendiri dan tidak mau diganggu. Kita tidak mau bercerita kepada sahabat kita bukan berarti kita tidak percaya. Pertama, kita memang lagi pengen sendiri dulu. Kedua, kadang merasa tidak enak kalau harus mengeluhkan masalah di depan sahabat. Takut merepotkan.
Nah, sebenernya pemecahannya gampang. Agar tidak membuat si A merasa nyesek, si B setidaknya bisa mengatakan, "Besok aja deh aku cerita, sekarang lagi pengen diem dulu, hehe". Meskipun besok-besok nggak jadi cerita karena udah lupa, haha. Nggak usah takut merepotkan, karena seorang sahabat tentu akan siap membantu sahabatnya. Mending jujur aja, setidaknya itu bisa membuat si A sedikit tenang. Jangan justru mendiamkannya. Ngelihat temen sedih itu juga bikin 'nggak enak' loh.
Untuk A, jika si B tidak jujur dan tetap mengatakan 'gapapa' itu berarti dia memang lagi pengen sendirian. Ngertiin dia dan jangan dipaksa. Emang kadang nyesek sih dan serba salah mau bersikap seperti apa. Tapi sebagai sahabat, memang kita harus bisa mengerti sahabat kita, kan?
Langganan:
Postingan (Atom)




