Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

Let Me Tell You (Review Novel ‘Morning Light’)


Pertandingan perempat final sepak bola antara SMA 135 dan SMA 315 sudah dimulai. Aku duduk di belakang gawang SMA 315 bersama temanku.
“Siapa namanya?” tanya Nadia, temanku, sambil menunjuk seorang cowok yang sedang menggiring bola di tengah lapangan.
“Devon,” jawabku singkat.
“Kenapa permainannya payah begitu?” komentarnya. Devon bermain tidak fokus, berkali-kali dia membuat kesalahan.
“Mungkin, dia sedang menunggu seseorang.”
“Siapa?”
Belum sempat aku menjawab, cewek manis yang duduk di sebelah kami berujar dengan nada kesal. “Kemana saja kalian? Pertandingan sudah berjalan selama 15 menit!”
“Sorry… sorry… ini gara-gara aku,” kata cewek berkacamata yang baru saja datang dengan nada penuh penyesalan.
“Sebenarnya, kami sudah selesai makan dari tadi tapi dia nggak mau ke sini sebelum mendapatkan ini!” kata satu-satunya cowok di antara mereka bertiga sambil mengacungkan tas plastik.
Nadia yang sedang memperhatikan mereka bertiga kemudian menoleh ke arahku. “Kalau mereka siapa? Apa mereka yang ditunggu Devon?” tanyanya.
“Cewek mungil itu Agnes, yang pakai kacamata namanya Sophia, kalau yang cowok itu namanya Julian,” sebutku. “Mereka bertiga sahabatnya Devon. Sophie adalah sahabat sejak kecil, bahkan rumahnya bersebelahan. Sedangkan Agnes dan Julian baru berteman sejak masuk SMA. Mereka berempat tinggal satu komplek.”
Nadia hanya mengangguk sambil membulatkan bibirnya tanda ‘oh!’
“Agnes itu jago masak, manis, suka senyum. Kalau Sophie itu sadis, cuek sama penampilan, peduli dengan teman, suka nulis. Eh, emm, mungkin sih. Tapi dia jago fotografi sebenarnya. Devon, seperti yang kamu lihat. Dia jago sepak bola, anaknya usil. Yang aku suka si Julian. Dia paling baik menurutku, pintar, dewasa pula,” jelasku panjang lebar.
Kami berdua kemudian menengok ke samping ketika tiba-tiba cewek bernama Sophie beranjak dari duduknya. Mata kami mengikuti ke arah dia berjalan.
“HOI BODOH! APA YANG KAMU LAKUKAN? JANGAN MEMBUAT MALU!!!!” teriak Sophie dari tepi podium.
Nadia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Sophie yang sedang berdiri berkacak pinggang. “Kenapa dia melakukan itu?”
“Dia harus mengingatkan Devon, karena kalau permainan Devon masih seperti itu, Devon bisa dimarahi habis-habisan oleh ayahnya.”
“Ayahnya?”
“Ya. Devon adalah putra Ruslan Jayadi, mantan pemain sepak bola, andalan PSIS dulu. Kamu tahulah, sebagai anak laki-laki satu-satunya, ayahnya menaruh harapan besar padanya untuk meneruskan mimpi.”
“Hidup dalam bayang-bayang keberhasilan orang lain,” gumam Nadia.
“Benar. Tidak hanya Devon sebenarnya. Mereka bertiga juga,” kataku sambil menggerakkan dagu ke arah Agnes, Sophie, dan Julian. “Mereka itu bunga matahari yang berusaha mengejar matahari. Padahal, bunga matahari sendiri sudah cantik. Yah, seperti katamu, karena hidup dalam bayang-bayang keberhasilan orang lain, mereka berusaha mengejar bayang-bayang itu hingga mengabaikan kalau sebenarnya mereka memiliki potensi masing-masing.”
Nadia mengangguk-angguk lagi, kemudian kembali menonton pertandingan.
“Kereeeeen!” pekiknya melihat permainan Devon yang sudah berubah 180 derajat. Nadia langsung melirik ke arah salah satu dari mereka bertiga—Agnes, Sophie, dan Julian—kemudian menoleh ke arahku dengan muka jahil. “Pasti ada kisah friendzone di antara mereka?”
Aku tersenyum geli. “Begitulah.”
“CUT!” suara sang sutradara terdengar lantang. “Oke, kita break dulu sebelum masuk ke scene berikutnya,” perintahnya.
“Keluar yuk beli minum, haus!” ajak Nadia. Meski hanya sebagai pemain figuran, kami berdua cukup lelah mengikuti jadwal syuting seharian ini.
“Eh ngomong-ngomong, kamu kok udah tahu detail karakter mereka dan jalan cerita film Morning Light? Padahal, kan, baru syuting?” tanya Nadia.
“Film ini kan diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Dan aku sudah pernah membacanya.”
“Benarkah? Boleh pinjam?”
“Oke. Nanti mampir ke rumahku, ya!” Dan kami pun keluar stadion untuk mencari Pocari Sweat.
***
           “Wih, sampulnya keren. Menarik!” komentar Nadia begitu ia melihat novel dengan warna sampul dominan kuning itu. “Oh, jadi ini karya Mbak Windhy Puspitadewi? Pengarang Let Go itu, kan?”
            “Iya. Pernah baca?”
            “Pernah, keren! Gagas Media juga ini?”
“Yap!”
“Pantes sampulnya keren, bukunya Gagas kan sampulnya juara.” kemudian Nadia membalikkan novel itu, diam sejenak--mungkin dia sedang membaca sinopsis di sampul belakang.

Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia : matahariku. Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup—malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.
Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri. Aku bahkan mengabaikan suara lirih di dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?

“Kayak kisah cinta, ya?” ujarnya setelah—mungkin—selesai membaca sinopsisnya.
“Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi ternyata enggak. Ini cerita persahabatan, ya meskipun ada kisah cintanya juga sebagai bumbu. Kalau kamu baca ceritanya, sinopsisnya tetep nyambung kok sama isinya.”
Dia kemudian mulai membuka-buka halaman depan novel itu. “Tahun 2010. Berarti duluan Let Go,” gumamnya. “Gaya bahasanya tetep baku kayak di Let Go?”
“Iya, khas Mbak Windhy pokoknya. Baku, aku-kamu, tapi nggak ngebosenin. Itu yang aku suka dari gaya tulisannya Mbak Windhy. Eh, ada juga. Humornya. Humornya Mbak Windhy itu berkelas, enggak murahan, meskipun pakai bahasa baku, aku tetep bisa terkikik kalau baca.”
Nadia mengangguk-angguk sambil tetap membolak-balikkan halaman demi halaman novel. “Eh, tapi novel ini tipis juga ya, 175 halaman.”
“Yap, aku nggak sampai sehari udah selesai baca. Tipis memang, tapi apa yang kamu bakalan dapet dari novel ini banyak banget. Serius! Meskipun sebenernya jalan ceritanya ketebak, tapi aku menikmati setiap bagian menuju akhir cerita ini.”
“Recommended nggak?”
“Recommended dong! Bagiku, novel itu bagus kalau bisa membuatku tidak berhenti membaca sebelum halaman terakhir, dan bisa menginspirasiku. Bahkan menginspirasi untuk ikut menulis. Dan Morning Light memenuhi keduanya. Empat dari lima bintang lah.”
“Oke, aku pinjam, ya?” kata Nadia akhirnya.
Aku mengangguk mengiyakan. Semakin banyak yang baca, semakin banyak yang akan terinspirasi juga, kan?  

Senin, 04 Februari 2013

From Nglanggeran With Gempor


Ada yang pernah kepo bio twitternya Ify? Unplanned moment is usualy better than planned ones. Emang sih, biasanya sesuatu yang nggak direncanakan itu lebih berkesan. Kayak perjalanan mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran kemarin. Ada yang belum tahu Nglanggeran? Coba deh googling!

Jadi, cerita berawal ketika saya baru aja selesai menjalankan tugas pagi. Saya tiba-tiba mendapat SMS dari Tiwi yang isinya ngajakin ke Nglanggeran, hari itu juga, 31 Januari 2013. Saya yang notabene nggak ada kerjaan oke-oke aja dong yaa. Akhirnya dia memutuskan untuk menjemput saya jam sebelas siang, then saya juga baru tahu kalau ternyata ada dua makhluk lain yang akan membersamai saya, they are Nanin and Ceria.

Tapi namanya aja Unplanned Moment, jadi wajar aja ketika banyak kesalahan saat eksekusi. This! Noted!

Pertama, adalah kesalahan saat naik ke Nglanggeran pada tengah hari.

Dimana-mana, lebih enak pagi atau sekalian sore, biar bisa nemuin sunrise atau kalau beruntung bisa menikmati sunset dari atas gunung. Lah ini? Kita naik jam dua belas titik nol nol. Saat matahari sedang garang-garangnya membakar bumi. Wajar kalau kemudian usaha mencerahkan kulit sia-sia seketika. Yang lebih fatal lagi adalah, kita naik nggak solat dzuhur dulu. Yaa Allah, maafkan mereka, yaa Allah. Mereka pasti sedang khilaf :(

Kedua, adalah kesalahan saat naik ke Nglanggeran tanpa pemanasan.
Berhubung yah namanya juga unplanned moment, kita nggak sempat tuh yang namanya lari-lari pagi, atau streching, atau semacam warming up, atau setidaknya gerakin-kepala-ke-kanan-dan-ke-kiri-sebanyak-dua-kali-delapan-hitungan. Kita pokoknya asal naik aja gitu, tanpa memikirkan bahwa semenjak lulus SMA kita udah nggak dapet pelajaran Olahraga. Hasilnya? Kita ngos-ngosan, kepyoh, terkeser-keser, dan betis kita udah kayak tales bogor. Gempor nggak karuan. Memang yah, perjalanan kayak kemarin itu tidak baik untuk kesehatan janin -___-

Ketiga, adalah kesalahan saat naik ke Nglanggeran pakai celana jeans dan sepatu cantik.
Lihat outfit kita! See? Oke, intinya adalah kemarin kita salah kostum. Yang namanya naik gunung, akan lebih kece kalau pake seenggaknya celana olahraga, kaos polos, pakai tas ransel atau carrier, pakai sendal gunung atau sepatu olahraga. Bukannya pake celana jeans, baju rempong warna-warni, tas kuliah yang motifnya bunga-bunga, pake flat shoes dan sendal cantik, ect. Yang ada, kita lebih pantes nyasar ke mall daripada blusukan munggah gunung. Nggak kece banget dan mengganggu banget. Bayangkan, menyusuri jalanan becek dan naik ke batu-batu terjal pakai flat shoes? Pfft.

Keempat, adalah kesalahan saat kita naik Nglanggeran nggak bawa minum.
Oke, fine! Kita kemarin naik cuma bawa empat botol minuman kecil, tiga nasi bungkus, satu potong roti, satu bungkus popcorn, satu bungkus happy tos. Berhubung kita belum pada makan siang, di pos 1 kita makan nasi bungkus dulu. Theen, cewek macam apa kita ini? Hand sanitizer nggak bawa, dan nggak ada yang bawa tisu sama sekali. Terpaksa kita cuci tangan pakai bekal minuman, yang padahal mepet banget. Hikmahnya adalah, kita jadi tahu kalau besok lagi nggak perlu bawa makanan banyak. Snacknya sama sekali nggak kemakan, serius. Dan satu botol untuk satu orang itu kuraaaaang T-T. Mendingan bawa lutisan, mantap!

Kelima, adalah kesalahan saat kita naik Nglanggeran tanpa cowok.
Oke, ini sebenernya rada nggak penting. Tapi kemarin yang naik rata-rata rombongan cowok, rombongan cowok cewek, atau couple. Seenggaknya ada cowoknya, lah kita? Wonder woman banget sumpah T-T
Kita bener-bener nggak kepikiran gimana kalau tiba-tiba ada yang berniat nyulik kita, atau tiba-tiba ada serangan macan tutul, atau tiba-tiba kita pingsan kecapekan. Siapa yang mau nolong? Yaa, kalau ada cowok kan seenggaknya kalau ada macan tutul, kita lemparin cowoknya biar dimakan, terus kita lari. Atau kalau kita kecapekan, ada yang bawain barang. Atau setidaknya ada pegangan kalau kita mau jatuh :3
Nggak harus saya juga yang bawain barang T-T
FYI nih, ceritanya kemarin saya sengaja nggak bawa tas biar nggak ribet. Eeeh, karena cuma saya nggak bawa barang, akhirnya saya yang dititah untuk nenteng-nenteng kresek isi bekal. Saya berasa kayak emak-emak lagi ngasuh anak-anaknya. Saya jalan selalu paling belakang, sambil nenteng kresek isi makanan, sambil bawa kamera. Sedangkan Ceria, Tiwi, Nanin melenggang asyik di depan saya, sambil sesekali teriak, “Nipppp, poto dong!” Errrrr!
Tep aku lagi sadar saiki nek wingi gur diuriki, yoh kowe cah T-T


Oke, sepertinya itu sedikit kesalahan kita kemarin. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi siapa pun yang mau naik ke Nglanggeran. Well, mari kita cuuusss ke galeri foto. Taraaaaaaa!

Nanin terbang at Pos 1


Itu belakangnya Gunung Merapi, cuma nggak jelas :(


Ceria versi galau nunggu jodoh
Siaan dia udah susur pantai dan mendaki gunung cuma buat nyari mas jodoh, tapi belum ketemu :(


Tiwi at Pos paling atas


“Nippp, poto dong!” #1


Wi, aku takut kamu jatuh :(


Foto bareng at pos puncak


“Nippp, poto dong!” #2

Wi, cemunguuuudh, bentar lagi sampai !


I’m at 1xxx mdpl. Brrrr, LOL :D

“Niippp, poto dong!” #3


Ceria at track paling ekstrem


Baru nyadar kalau yang paling banyak foto itu si Tiwi :/


*nyeka keringat* udah yaa, lama nih upload :/
Intinya adalah, kita sampai bawah jam 4 sore dan langsung capcus nyari es kelapa muda, haaaauuuuuus kagak nahan! Okay, sampai jumpa di blusukan selanjutnya bersama kami para cewek kece yang sekarang lagi gempor :D

Selasa, 15 Januari 2013

The Simple Refrain



When I read this book, saya bisa membayangkan dengan jelas setiap adegannya. Otak saya seperti sedang memutar sebuah film. Jelas sekali. Detail. Saya seolah-olah sedang menonton Refrain versi filmnya. Mungkin karena saya pernah menemukan hampir semua bagian adegan Refrain ini di film.

Jadi, Refrain ini bagi saya sederhana. Entah karena temanya sudah biasa atau memang temanya yang dekat dengan pembaca, tapi saya merasa. . .saya sudah sering banget dengan cerita seperti ini. Hampir tidak ada kejutan. Bagian yang mengejutkan adalah ketika Niki yang cheers abis pada akhirnya mengabdikan diri sebagai seorang guru SD, mehehe, rada kaget juga. Abis kayak kurang pas gitu.

But, I like it. Saya selalu suka dengan cerita persahabatan, cerita anak sekolahan, dan yah memang deket banget. Banyak quotes yang ngena, yang bikin saya nggak bisa menyangkal dan bilang “oh, iya ya”. Intinya, Refrain ini sederhana yang tidak sederhana. Nah loh?

Saya suka dengan Nata yang karakternya cuek tapi peduli, sarkastik, tapi so sweet juga u,u. Niki yang selalu bersemangat, energinya sampai ke saya. Annalise, mmm, saking calmnya bagi saya justru agak tenggelam di sini. But, saya merasa dia adalah pihak yang sebenernya paling nyesek di sini T-T. Oliver, jujur saya tidak terlalu suka, too good too be true. Padahal sempet ngerasa keren pas bagian pertama dia ngajak kenalan Niki, tapi ternyata sama aja. Helena, yah, seperti tokoh antagonis kebanyakan. Punya kakak kayak Danny? Boleh juga kayaknya :D

Refrain bisa memaksa saya untuk tidak bisa berhenti membaca sebelum halaman terakhir. Refrain bisa membuat saya ikut menulis. Dan itu cukup bagi saya untuk mengatakan bahwa novel ini. . .recomended :)

Jumat, 11 Januari 2013

Oleh-oleh dari Negeri 5 Menara


Orang berilmu dan beradab tidak akan berdiam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan.

(Imam Syafii)

Rabu, 19 Desember 2012

The Great 5 cm!


Saya mungkin termasuk orang yang telat baca 5 cm. Gimana enggak, saya baru baca novel best seller ini enam tahun sejak dia terbit pertama kali, gilak! Saya beli novel ini 11 Agustus 2011 atas rekomendasi dari Nindy, temen saya di Cirebon yang selalu excited ngomongin Mahameru. Akhirnya, setelah dikompor-komporin beberapa lama, saya nyasar di toko buku, sendirian, malem-malem, waktu itu sih gara-gara main bareng temen dan saya kehilangan jejak mereka. Alhasil, kesasar malem itu mempertemukan saya dengan novel item setebal 3 cm ini.


Selasa, 13 November 2012

Sunset Bersama Rosie (A Novel by Tere Liye)


Duduklah sebentar, aku ingin menceritakan kisah mereka. Kau tahu Tegar? Ya, Tegar. Kalau bagi keponakannya-Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili-dia adalah paman yang hebat, super, dan keren, tapi tidak bagiku. Kalau bagi Rosie dia adalah sahabat terbaik, tapi tidak bagiku. Kalau bagi Oma dia adalah anak yang amat baik, tapi tidak bagiku. Kalau bagi bosnya dia adalah aset terbaik perusahaan, tapi tidak bagiku. Terlepas dari itu semua, aku tidak suka dengan dia. Dia banyak menyakiti Sekar, dan bahkan terkadang dia tidak sadar. Entahlah, aku terlalu memikirkan Sekar memang.

Tegar jahat, ah tidak tidak, mungkin dia hanya bodoh. Tegar bodoh. Sekar juga bodoh. Tidak, mereka sebenarnya tidak salah, hanya mungkin cinta memang tidak pernah baik pada mereka. Dan memang, sekali lagi, aku mengerti bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Hati tidak memilih.


Rabu, 15 Agustus 2012

#buber47

Udah jadi budaya kali ya kalau tiap ramadhan pasti banyak undangan buber. Tahun ini juga. Dan buber yang paling megang buat tahun ini adalah #buber47. Bubernya alumnus ekamas angkatan 47.

Saya mulai ngeh sama kegiatan ini sejak promosi di twitter yang keren abis. Mulai dari admin @ekamas47 yang super gokil dalam mempromosikan kegiatan ini, ramenya twit dengan hastag #buber47, sampai ava yang kompakan menjelang kegiatan ini.

Ini nih maskot #buber47 sekaligus ternding ava di twitter :

Senin, 23 April 2012

Trip To Jekardah :D


“Untuk mewujudkan mimpi dibutuhkan niat, usaha, doa, dan keberanian”

Kalimat di atas saya ambil dari status fb saya tanggal 21 April 2012. Update-an setelah saya melakukan perjalanan ke Jakarta. Cieeee, gaya banget deh saya!
Kata ‘keberanian’ itu sepertinya perlu digarisbawahi. Lebih tepat disebut ‘nekat’ sebenernya. Sama ketika saya memutuskan untuk melancong ke Jakarta. Kota yang menurut saya serem banget. Rencana main ke Jakarta sebenernya udah lama terpikirkan, bahkan saya udah nabung. Dulu, rencana kita berangkat berenam, 3 cowok, 3 cewek. Tapi berhubung yeyeye lalala (?) akhirnya yang berangkat cuma bertiga. Aku, Iput, dan Ijup.

H-2
Saya diliputi keparnoan yang sangat amat. Gimana enggak coba, ini Jakarta meeen Jakartaaaaa! Saya yang notabene naik Trans Jogja aja nyasar mau nekat ke Jakarta? GOOD! *mendadak kolaps*
Saya saat itu mulai berpikir yang enggak-enggak. Gimana coba kalau saya nyasar di Jakarta? Gimana kalau saya diculik? Yang paling parah, gimana kalau saya mati di Jakarta? Saya belum nikah lulus kuliah maaaak T-T
Tapi akhirnya setelah memantapkan hati dan meneguhkan keyakinan, saya memutuskan untuk tetap berangkat. Maklum, saya ini memang cewek pemberani! *Padahal karena udah terlanjur beli tiket seharga 125 ribu, sayang banget ituuuuu*

H-1
Keparnoan sudah bisa diatasi, yeaaaaayyyy! Ini sih berkat dukungan dari temen-temen juga, mereka sampai bawa-bawa spanduk gitu buat nyemangatin saya. Duh, terharu sangat! #plak
Malem sebelum berangkat sempat ditelpon sama temen yang di Jakarta, dan dengan nada meremehkan *sialan banget* dia nanya, “Kowe tenan arep mangkat neng Jakarta? Kowe wis ngerti kahanan kene ki kepiye? Terus nek seko stasiun kowe wis ngerti kudu numpak opo?” (Baca : “Kamu beneran mau berangkat ke Jakarta? Kamu udah tahu keadaan di sini tuh gimana? Terus dari stasiun kamu udah tahu harus naik apa?”). Parah, dia memang parah banget nanyain saya kayak gitu. Belum tahu dia siapa saya! *Emang bukan siapa-siapa sih*

Rabu, 18 April 2012
Niatnya kan ke Jakarta mau backpacker-an gitu, santai cuma bawa tas satu aja. Tapi ya kalian tahu lah cewek itu gimana, bilangnya sih nggak mau ribet tapi tetep aja bawaannya 5 tas -___-
Pagi itu saya dan kedua teman saya naik TJ dari kos Kalasan menuju Stasiun Tugu Jogja. Kita bakalan naik kereta bisnis Fajar Utama Yogya dengan keberangkatan Yogyakarta 08.00 WIB dan ketibaan (?) Pasar Senen 16.37 WIB.
Harga tiketnya Rp 125.000,-
Saya dan Iput duduk bersebelahan di gerbong 3 seat nomor 8A dan 8B. 


Menghabiskan berjam-jam diperjalanan selain capek dan bosen juga ngabisin duit. Gimana enggak coba, bentar-bentar ada pengamen, ada tukang sapu, tukang pel, tukang semprot ruangan yang notabene menjadi ‘perampok’ tapi dengan cara sangat halus. Yang menarik perhatian saya justru para pedagang-pedangan di stasiun itu. Mereka jualan apa ajalah pokoknya, klanting, arem-arem, pecel, getuk, dodol goreng, bahkan baju batik, dompet, peci, gunting, alat pijet, dll. Saya sebenernya kasihan dan pengen beli semua, tapi setelah buka dompet dan di sana cuma ada beberapa lembar uang saja, saya jadi mikir kalau ngebantu mereka = saya tidak bisa pulang. Ya sudahlah, akhirnya hati malaikat saya harus ngalah #gubrak.
Saya kepikiran, harga klanting per bungkus Rp 2.000, sehari paling ke jual berapa doang. Misalkan aja 10 bungkus. Berarti cuma dapet 20 ribu, itu masih kotor. 20 ribu itu buat makan sehari satu keluarga, emang cukup? Klanting masih mending ga basi, lah kalau pecel? Emang nasi pecel pasti kejual habis sehari? Saya masih bingung mikirin gimana mereka bisa bertahan hidup. Buat makan aja pas-pasan lah terus buat nyekolahin anak-anak mereka gimana?

Well, tinggalkan dulu bakul klantingnya. Cerita berlanjut dan pukul lima sore saya sampai di stasiun Jatinegara. Di situ udah ada Pakdenya Iput yang jemput. Kami akhirnya berpisah dengan Ijup, dia balik ke rumahnya sendiri yang entah saya juga nggak tahu dimana. Aku, Iput, dan pakdenya naik angkot 35 dari stasiun sampai depan SMP 7 Jakarta. Kita masuk gang depan SMP dan belok ke Jalan Pepaya. Rumahnya warna pink.
Waktu mauk gang, ada yang menarik lagi. Kita melewati perkampungan agak kumuh gitu, yang rumahnya cuma ada satu ruangan dan itu menjadi pusat kegiatan. Dih, kebayang nggak sih? Waktu itu ada bayi juga ditidurin di lantai, padalah depan rumah itu selokan. Ckckck.
Yang kedua, waktu kita melewati kerumunan orang, saya kira sih pakdenya Iput bakalan nyapa soalnya itu di depan rumah tetangga doang. Eh, gataunya pakdenya nyelonong aja kayak orang nggak kenal. Dan ternyata, kata Iput, di sana emang nggak saling kenal. Pas ada nikahan aja bukan tetangga yang ngebantuin, tapi sodara-sodara yang dari jauh. Ini beda banget sama di Jogja, di rumah saya.
Setelah mandi, makan, dan kumpul sebentar di ruang keluarga, aku sama Iput tidur. Dan tidur malam itu entah kenapa rasanya pules banget. Zzzzzz. . . .

Kamis, 19 April 2012
Yuhuuuuu, hari ini rencana ke Dufan \(n,n)/
Sebelum berangkat ke Dufan, saya sempet ketemu sama temen fb. Kak Ririn. Cieeee, nggak nyangka banget ini bisa sekalian ketemuan.

Setelah menunggu busway dan berjuang di antara desakan penumpang akhirnya kita sampai di Dufan. Rada sepi sih, maklum bukan hari libur.
Yang paling menyenangkan adalah hari itu Dufan diskon 50% dalam rangka Hari Bumi, surgaaaaaa bangeeeet!

Main di Dufan seharian sih tetep nggak puas. Apa banget deh, antrinya sejam naik wahananya nggak nyampe 3 menit. Alhasil, cuma bisa naik histeria, kora-kora, bianglala, halilintar, terus? Dih, dikit amat sumpah -____-
Pulangnya dari Dufan jam 5 dan nyampe rumah jam 8 malem. Baru kali ini ngerasain macet beneran dan berada di dalam kaleng berjubel manusia. Berasa sarden beneran -___-

Jumat, 20 April 2012
Inilah saatnya mewujudkan impian. Niat utama saya ke Jakarta kan pengen main ke kampus dan foto ditulisan STAN pakai jas almamater. Jadi, begitu sampai gerbang belakang dan ngeliat tulisan ‘STAN’ itu rasanyaaaaaa nggak bisa didiskripsikan. Senengnya lebih seneng daripada seneng-seneng di Dufan #eh.
Oh iya, biar nggak lupa nih. Rute menuju kampus dari utan kayu : naik busway ke Blom M (3500), dari Blok M naik metro mini no.71 jurusan Bintaro (2000), turun habis rel kereta, naik angkot 05 warna putih (3000), sampai deh di gerbang belakang. Macet nggak? Jangan tanya deh :3
Di kampus nih cuma muter-muter doang, makan siang di Kalimongso, terus poto-poto. Udah deh!

Sebenernya sih belum pengen pulang, betah banget di sanaaaaaa T-T
Tapi apa boleh buat, berhubung jam 7 malem saya harus balik ke kota tercinta, maka kami harus pulang. Pulangnya sih nggak naik busway, takut macet. Dari depan kampus itu naik angkot D09 warna putih (1500) sampai lampu merah, terus jalan kaki sampai stasiun, di sana kita beli tiket KRL sampai stasiun Jatinegara (7500).

Perjuangan paling deg-degan adalah saat mau ke Stasiun Pasar Senen. Saya nih ya jam 5 baru sampe rumah pakdenya Iput, solat Asar, dan jalan kaki di depan SMP 7 nungguin pakde saya jemput.
Yang bikin saya takut adalah, waktu itu ujan deres banget pake angin, terus udah jam 6, padahal kereta berangkat pukul 18.40 WIB. Udah deh pokoknya diajakin ngebut aja, sampai stasiun ternyata rada banjir dan macet. Takut ga keburu, akhirnya mobil ditinggal dipinggir jalan dan saya sama pakde lari-larian masuk stasiun. Gila itu udah pukul 18.40 tepat. Untung sih ya keretanya masih ada, tapi cuma sempet ngeletakin barang aja dan kereta berangkat.
Naik kereta Ekonomi AC Bogowonto keberangkatan Pasar Senen 18.40 WIB dan tujuan akhir Tugu Jogja 04.02 WIB. Harga tiket Rp 155.000. Saya duduk di gerbong 2 seat nomor 3B.

Sabtu, 21 April 2012
Alhamdulillah kereta tetap waktu, dan saya sampai kota tercinta dengan selamat :’’’’)
Dijemput temen dari stasiun sampai ringroad Wonosari dan saya naik bus sampai pertigaan Gading (4000). Dari Gading sampai rumah di jemput sama Bapak, yeah! I’m officially selamat :D

Special Thanks
Allah SWT yang telah mencurahkan segala rahmat-Nya hingga saya bisa sampai Jakarta.
Bapak, Ibu yang udah ngasih doa restu dan uang tambahan :D
Adik, sodara-sodara di rumah, dan temen-temen yang udah ngasih doa dan menguatkan saat-saat saya dilanda keparnoan, hiks terharu
Iput dan Ijup yang udah nemenin petualangan dan bisa memaklumi keudikan plus kegilaan saya, tengkyuuuuuu
Buat Pakdenya Iput beserta keluarga, terima kasih sudah mau menampung saya :))
Buat Cumik yang udah perhatian banget, makasih yaaaaa
Mas Ilham, Mas Dian, Dewi, Mbak Nia, Mas Fahri makasih banget atas petunjuk jalannya, makasih udah nganterin muter-muter. Semoga bisa ketemu lain waktu :)
Pakde saya yang meskipun habis kecelakaan masih rela jemput dan nganterin saya sampai stasiun, makasih bangeeeet. Makasih juga buat tiket gratisnya dan uang pesangon, sering-sering aja pakde #eh #ponakangataudiri
Buat Otoy yang udah rela pagi-pagi jemput di stasiun, makasih. Dibayar pakai sarapan aja mah dia mau, haha #peace
Buat semua semua semua yang udah membantu kelancaran perjalanan ini, makasih banyaaaaaakkkkk yaaaaaaa :*
Maaf nggak bisa cerita detail dan disebutin satu-satu, udah pegel nih ngetiknya T-T

Kesimpulannya, saya bersyukur banget hidup di Jogja, tapi ketagihan main ke Jakarta. Sekian. Terima kasih.