Aku tahu, tidak selamanya kamu akan menunggu
Pergilah jika memang kamu sudah bosan
karena menunggu memang sesuatu yang membosankan
Tapi. ..
Ku mohon, pergilah dengan tersenyum
karena akan lebih mudah bagiku untuk merelakanmu
Bagian tersulitnya hanyalah
ketika aku merelakanmu pergi
tanpa mengijinkan kamu tahu perasaanku. . .
Aku tahu, tidak selamanya kamu akan berlari
Ada saat dimana kamu merasa lelah
Dan bila tiba saatnya, berhentilah berlari
Carilah tempat persinggahan terdekat
Tapi yakinlah, jika memang aku tempat yang telah disediakan untukmu
dengan berjalan pun, suatu saat kau akan sampai
Di sini. . .
Rabu, 01 Agustus 2012
Selasa, 31 Juli 2012
Bukan Diriku (cerpen)
Yuhuuuu, ini sebenernya ada sequel dari cerpen Ku Cinta Kau dan Dia, bagi yang belum baca bisa buka link ini http://www.facebook.com/notes/hanifa-amanati/ku-cinta-kau-dan-dia-cerpen/225182650828456
Enjoy this story :)
Enjoy this story :)
Bukan
Diriku
Setelah kupahami
Ku bukan yang terbaik
Yang ada dihatimu
Tak dapat ku sangsikan
Ternyata dirinyalah
Yang mengerti kamu
Bukanlah diriku
***
Surat Untuk Calon Pemilik Hati
Teruntuk
calon suamiku, yang semoga senantiasa dirahmati Allah.
Aku tahu,
engkau tahu kalau cinta adalah anugerah. Kita tidak pernah tahu kapan cinta
datang dan akan kepada siapa cinta itu kita berikan. Dan begitulah yang terjadi
padaku saat ini.
Maafkan aku,
calon imamku, kini aku memendam perasaan itu kepada seseorang yang belum tentu
itu dirimu. Maafkan aku jika aku masih sering mencuri-curi pandang ke arahnya.
Maafkan aku jika aku tidak bisa mengatur frekuensi detak jantungku saat dia menggodaku.
Maafkan aku jika aku tidak bisa menahan bibirku untuk tidak tersenyum saat dia memujiku.
Sungguh, hati wanita memang lemah dan Allah selalu menguji tepat di bagian itu.
Calon
suamiku, maafkan aku jika aku masih belum bisa seutuhnya menjaga hati ini
untukmu. Aku hanya bisa berharap, jika memang kelak dia adalah dirimu maka aku
yakin Allah akan mempertemukan kita di saat yang tepat dengan cara terindah.
Tapi jika memang bukan, maka biarkanlah perasaan ini hanya aku dan Allah yang
tahu. Sungguh, bukan hal yang mudah menahan perasaan ini, tapi untukmu. . .aku
akan berusaha. Jika memang rasa ini tidak pada tempatnya, aku hanya berharap ia
akan hilang seiring berjalannya waktu.
Aku tahu
masih banyak cela dalam diri ini. Aku akan berusaha untuk istiqomah menjaga
hati ini, hingga saat tiba waktunya nanti aku akan siap mempersembahkan hati
ini seutuhnya untukmu.
Kamar Kos,
30 Juli 2012
Rabu, 25 Juli 2012
Ketika Status Menggalaukanku
Kayaknya
membicarakan satu kata ini emang nggak ada habisnya. Gue pernah bikin note dan
cerpen khusus tentang masalah ini, tapi toh hasrat untuk membahas satu kata ini
selalu muncul. Oh iya sebelumnya, gue lagi macak orang kota nih, jadi maklumin
aja yee kalau pakai gue-elo.
Dalam note
dan cerpen gue, gue muncul dengan segala argumen tentang status yang kayaknya
emang sedang jadi trendsetter ini. Saking
(kelihatannya) kekeuh banget sama status jomblo, sampai-sampai ada seseorang
yang bilang kalau ilmu jomblo gue udah expert
banget =.=
Tapi
kemudian, gue jadi mikir, bisakah gue membuktikan minimal satu argumen ‘jomblo
adalah pilihan’. Karena kenyataannya, gue belum pernah terjebak dalam suatu
kondisi dimana prinsip kejombloan gue benar-benar tergoyahkan.
Selama ini,
gue selalu berada dalam kondisi yang memiliki pengontrol untuk tetap berada
dalam fase bebas (ehem, jomblo is freedom katanya). Entah itu karena gue nggak
suka sama dianya. Entah itu karena dua hati yang sebenarnya saling menunggu,
lama, tapi akhirnya mati tanpa tahu T-T
Entah itu
karena gue suka tapi cuma diam-diam. Entah itu karena suka-sama-suka tapi
dianya udah nggak sendiri (jangan ditiru yaaa). Entah itu karena sama-sama-suka
tapi dianya telat nembak. Atau etcetera lah. Yang jelas, semua kondisi yang gue
alami belum pernah BENAR-BENAR menggoyahkan status gue.
Nah, yang jadi pertanyaan adalah semisal ada
kesempatan yang sangat amat memungkinkan dan gue udah sama-sama nyaman dengan
seseorang, apakah iya gue tetep bisa MEMILIH untuk jomblo?
Sekarang gue
jadi baru bener-bener ngerti maksud dari ‘jomblo itu nasib, kalau single itu
prinsip’. Kata seseorang, jomblo itu nggak pacaran karena belum ada kesempatan,
tapi single itu nggak pacaran karena dia memang berprinsip.
Sebagai
sebuah analisa (egila bahasa gue sok amat), gue ambil kasus yang baru-baru ini
gue alami. Kemarin gue sempet berada dalam kondisi dimana berat untuk berkata ‘tidak’
#ciieee #sok
Nggak
berat-berat amat juga sih, cuma pas habis bilang ‘tidak’ itu rasanya jadi
pengen nangis. Huaaaaa, gue pengen lebay nih jadinya. Saat itu gue baru sadar,
kalau ternyata mempertahankan status jomblo juga bukan hal yang mudah. Oke,
singkat cerita akhirnya gue bilang ‘tidak’. Dan singkat cerita, gue masih
jomblo.
Yang jadi
pertanyaan dari kondisi di atas : gue ini jomblo apa single?
Gue beneran
bingung dengan prinsip apa yang sebenernya gue pegang selama ini. Sumpah,
beneran deh saat ini gue mendadak galau #pfft.
Gue bukan
tipe orang yang anti sama pacaran. Toh, nyatanya gue juga kadang pengen punya
pacar.
Kalau gue
dibilang single hanya karena kondisi yang udah pernah gue alami, bagi gue itu
masih kurang menantang. Gue sekarang malah pengen diuji berada dalam kondisi
yang benar-benar menggoyahkan status gue. Gue cuma pengen lihat, apa iya gue
masih bisa tetep memilih sendiri?
Kesimpulan
dari obrolan nggak jelas ini adalah gue sebenernya masih labil. Masih sangat
amat labil. Noh, nyatanya gue belum tahu kan harus berpegang sama prinsip yang
mana. Let it flow? Duh, klasik ini klasik -___-
*5 menit
kemudian*
Oke, gini
aja. Pada akhirnya, setelah garuk-garuk tengkuk, gue menetapkan untuk membuktikan
argumen gue sendiri : jomblo adalah pilihan, gue jomblo karena memilih jomblo
bukan karena nggak bisa punya pacar. Gue pengen jadi high quality jomblo
#fight.
Eits, ini
gue bicara dalam konteks pacaran, bukan nikah. Kalau nikah sih gue
setuju-setuju aja #SyndromMahasiswaMauWisuda.
Gimana, udah
pusing belum? Mari gue ajak ke pembicaraan yang lebih pusing lagi!
Sekarang gue
mikir, jomblo atau pacaran itu kan hanya masalah status. Ketika kita hanya
bercermin pada STATUS tanpa diikuti dengan niat menjaga diri dari lawan jenis,
itu hanya akan menjadikan kita jomblo tapi deket sama banyak orang (uhuk, jiwa
keakhwatan gue muncul).
Kayak gue
misalnya, karena merasa aman dengan status jomblo, akhirnya gue terlena dan deket
sama beberapa orang #sokpayu. Di sinilah sisi egois gue muncul, diajakin ‘iya’
sama salah satu nggak mau, tapi ditinggalin juga nggak mau. HAHAHA.
Gue sadar,
yang terpenting adalah menjaga diri dari lawan jenis, bukan menjaga diri dalam
kondisi jomblo. Ngakunya jomblo kalau kelakuannya udah kayak orang pacaran kan
sama aja #bukangueloh.
Tapi,
menjaga diri dari lawan jenis juga tidak lebih mudah dari mempertahankan status
jomblo.
Kayak gini
nih! Kalau gue udah suka dan deket sama seseorang, hati gue bilang itu jelek.
Iya gue tahu, sebagai seorang muslimah kan harusnya gue menjaga hati. Tapi
nggak bisa dipungkiri, separuh hati gue yang lain bilang, “Masak iya mau
berhenti? Sayang loh udah sampai di sini, jatuh cinta itu anugerah”. Nah kan,
galau lagi gue jadinya.
Jadi
intinya. . .jujur gue juga bingung intinya apa. Tolong deh siapapun juga yang
udah baca tulisan ini, bantu gue menyimpulkan pembicaraan random ini please =.=
Karena gue
seorang penulis amatir yang baik yang tidak ingin menambah pembaca makin
pusing, maka akan gue akhiri saja pembicaraan yang terlalu ribet dan
berbelit-belit ini. Gue cuma berharap, setelah ini gue akan mengalami
kejadian-kejadian yang akan memperjelas jati diri gue #sigh.
Sabtu, 14 Juli 2012
Ketika Kita Disakiti
Pernah disakitin? Gimana rasasanya? Nyesek?
Kalau disakitin, kamu pengennya ngapain? What will you do?
Kalau aku sih pengennya bales nyakitin, kalau bisa LEBIH sakit lagi. PE-NGEN-NYA.
Geregetan sih soalnya, rasanya pengen bilang, "Dikira cuma kamu yang bisa bikin nyesek? Kamu bisa segini, aku bisa bikin kamu lebih nyesek dari ini!" Kalau mau sih bisa. KALAU MAU. Tapi kadang keinginan balas dendam itu terurungkan, karena. . .
Pertama
Akan sangat tidak dewasa apabila kita balas menyakiti orang yang telah menyakiti kita. Kita hanya akan menjadi sama tidak dewasanya dengan dia.
Kedua
Hal terbaik yang bisa kita lakukan kepada orang yang telah menyakiti kita adalah berbuat baik kepadanya. Beban moral yang harus ditanggung orang yang menyakiti itu lebih besar daripada orang yang disakiti. So, berbuat baik kepada orang yang telah menyakiti kita itu setidaknya akan membuat dia merasa bersalah.
Ketiga
Membuat dia menyesal telah menyakiti kita dengan menunjukkan bahwa kita terlalu berharga untuk disakiti. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat dia menyesal telah menyakiti kita.
Yuhuuu, sadis banget kayaknya postingan kali ini :D
Jumat, 13 Juli 2012
Karena Sahabat Tahu
Karena sahabat tahu mana senyum 'beneran' dan mana senyum 'pura-pura'
Ada sepasang sahabat, sebut saja A dan B. Suatu ketika A mendapati B sedang kelihatan galau.
Di posisi A
Nyesek loh rasanya ketika menanyai sahabat yang sedang kelihatan galau dan mendapat jawaban, "Aku nggak gapapa, kok". Pertama, karena seorang sahabat tahu bahwa sebenarnya kamu ada apa-apa. Kedua, merasa nyesek karena itu rasanya sahabat kita tidak percaya untuk bercerita kepada kita. Ketika kita berada di posisi A, sebenernya kita akan lebih senang jika B bercerita kepada kita.
Di posisi B
Terkadang ketika memiliki masalah, kita butuh waktu untuk sendiri dan tidak mau diganggu. Kita tidak mau bercerita kepada sahabat kita bukan berarti kita tidak percaya. Pertama, kita memang lagi pengen sendiri dulu. Kedua, kadang merasa tidak enak kalau harus mengeluhkan masalah di depan sahabat. Takut merepotkan.
Nah, sebenernya pemecahannya gampang. Agar tidak membuat si A merasa nyesek, si B setidaknya bisa mengatakan, "Besok aja deh aku cerita, sekarang lagi pengen diem dulu, hehe". Meskipun besok-besok nggak jadi cerita karena udah lupa, haha. Nggak usah takut merepotkan, karena seorang sahabat tentu akan siap membantu sahabatnya. Mending jujur aja, setidaknya itu bisa membuat si A sedikit tenang. Jangan justru mendiamkannya. Ngelihat temen sedih itu juga bikin 'nggak enak' loh.
Untuk A, jika si B tidak jujur dan tetap mengatakan 'gapapa' itu berarti dia memang lagi pengen sendirian. Ngertiin dia dan jangan dipaksa. Emang kadang nyesek sih dan serba salah mau bersikap seperti apa. Tapi sebagai sahabat, memang kita harus bisa mengerti sahabat kita, kan?
Rabu, 13 Juni 2012
IP oh IP (cerpen)
Arya
is calling. . .
Layar ponsel itu berkedip
seiring dengan alunan reff Tonight-nya BigBang. Gadis yang sedang rebahan itu
meraih ponsel hitam yang tergeletak di samping bantal kesayangannya. Sebelum
menekan tombol answer, ia menyusut sisa-sisa air mata di sudut matanya. Entah
apa hubungannya menyusut air mata dengan menekan tombol answer.
KLIK!
“Halo, Viaaa,” suara di
seberang langsung terdengar.
“Hem,” jawab gadis itu
tanpa semangat.
“Hari ini nggak ada acara
kemana-mana, kan?”
“Kenapa emangnya?”
Suara di seberang tidak
langsung terdengar. Ada jeda cukup lama yang membuat diam di antara mereka
berdua. Detik selanjutnya, suara itu kembali terdengar melalui speaker ponsel touchscreen itu. “Tukang batagor
langgananmu belum lewat, ya?”
Via mendecak kesal, saat
itu juga ia merutuki nasib memiliki kekasih geje seperti Arya. “Ada apa sih,
yaaaa?”
“Vi, ini kan belum tanggal
lima belas. Belum tanggalnya kamu gampang ngambek sama sensitif kayak gini.
Kenapa sih kenapa? Cerita lah!”
Via tidak menjawab, ia
ingin memberikan sinyal kepada Arya kalau memang moodnya sedang kelindes truk
dan butuh perbaikan. Huh! Mendadak ia benar-benar malas menanggapi kegejean
kekasihnya.
Di seberang sana, Arya
tiba-tiba mendapat pencerahan tentang hari apa ini. “Oh, aku tahu. Berapa
IP-mu?” tanyanya kemudian.
“Jelek. Nggak usah
dibahas,” jawab Via sekenanya.
“Nah, ketemu sekarang
penyebabnya. Ya udahlah nggak usah ngambek gitu, masa IP yang jelek aku yang
kena marah?”
“Siapa yang marah sama
kamu?” timpalnya ketus.
“Duuhh, takut deh! Kamu dapet
IP segitu atas usaha siapa? Kamu sendiri, kan?”
Alivia tidak menjawab
pertanyaan retoris itu. Tangannya meraih teddy bear coklat yang tergeletak di
sudut tempat tidurnnya lantas memeluknya. Dibiarkannya Arya melanjutkan
pembicaraan itu.
“Apapun yang telah kamu
dapat hari ini, itulah cerminan apa yang telah kamu usahakan kemarin. Bagus
atau jeleknya IP-mu sekarang itu kan hasil usahamu sendiri.”
“Iya aku tahu itu, tapi
tetep aja nyesek rasanya. Targetku nggak kesampaian,” adu Alivia.
“Target berapa kamu?”
“Paling nggak 3,5 lah dan
kamu tahu yang aku capai berapa? 3,41. Ini kan baru semester pertama, sedangkan
banyak yang bilang IP itu cenderung menurun di tiap semester,” kata Alivia
masih dengan nada dingin.
“Itu kan KATANYA bukan FAKTANYA.”
Singkat. Padat. Tapi
menohok.
“Dan faktanya, IP-mu
sendiri turun, kan?” tandas Alivia.
“Wih, menohok sangat
pernyataan dindaku ini.”
“Nah!” kata Alivia dengan
nada menang.
“Nah, makanya tugas kamu
menghapuskan anggapan yang sudah biasa itu. Buktikan kalau mitos IP makin turun
itu tidak berlaku, setidaknya buat kamu.”
“Gampang? Iya ngomongnya.”
“Wuidih, ampun nek, dingin
banget komentarnya. Udahlah, IP itu bukan segala-galanya, kan?”
“Iya. Tapi segala-galanya
bisa berawal dari IP,” sambar Alivia cepat.
“Termasuk kamu jadi ganas
begini juga berawal dari IP?” Arya membalas langsung pada sasaran.
“Ck.”
“Memangnya kalau IP-mu
tinggi itu menjamin kamu sukses? Tidak. IP itu hanya mengantarkan kamu
setidaknya sampai tahap wawancara, setelah itu di dunia kerja, IP itu bukan hal
penting lagi.”
Alivia tidak menanggapi,
seperti biasa jika sudah mulai serius seperti ini, sang mantan ketua OSIS itu
akan mulai berorasi.
“Well, setidaknya ada 9 kecerdasan
yang dimiliki manusia. Salah satunya kecerdasan
matematika-logika dan kecerdasan bahasa yang sering dikategorikan sebagai
kecerdasan intelektual yang dulu sering dianggap sebagai faktor kepintaran
seseorang. Tapi apakah kalau pintar lantas menjamin kita sukses? Tidak. Ada
sebuah penelitian, kalau nggak salah dari NACE USA aku juga lupa, yang
menyatakan bahwa 457 pimpinan perusahaan bilang IP bukanlah hal yang dianggap
penting dalam dunia kerja. Yang jauh lebih penting adalah sotfskill antara lain
kemampuan komunikasi, kejujuran, kerjasama, motivasi, kemampuan beradaptasi dan
kemampuan interpersonal dengan orientasi nilai pada kinerja yang efektif.”
Nah kan iya, tidak salah dulu
pacarnya itu terpilih sebagai ketua OSIS. Tuh, nyatanya pinter banget kalau
suruh ngomong. Alivia, meskipun dalam hati membenarkan semua perkataan Arya,
tetap saja memasang muka cemberut mendengarkan nasihat kekasihnya itu.
“Dan kamu tahu softskill tersebut
masuk dalam kecerdasan apa? Kecerdasan emosional. Gini deh, kamu tahu akun
twitter shitlicious?”
“Iya, kenapa?”
“Kalau kamu pernah baca bukunya,
yang skripshit, kamu bakalan bener-bener sadar kalau IP bukanlah sesuatu yang
menentukan masa depan. Dia, si alit itu, pernah dapet IP satu koma dan sampai
sekarang pun dia belum lulus kuliah. Entah udah berapa belas semester dia
selami. Tapi toh nyatanya dia termasuk orang sukses sekarang. Di salah satu bab
dalam bukunya, dia mengatakan kalau sekolah dan kampus itu bisa mendidik kita
menjadi orang pintar, tapi hidup dan segala pengalaman bisa mendidik kita
menjadi orang benar.”
Gadis berambut panjang itu
menggerakkan jari telunjuknya mengikuti bordiran ‘love’ di bagian dada teddy
bear coklatnya. Merasa jengkel. Entah karena yang dibicarakan Arya terlalu jleb
baginya, atau entah karena dia males mendengarkan nasihat Arya. Saya juga tidak
tahu.
Sayup-sayup Arya melanjutkan
penjelasannya.
“Dan pengalaman seperti itu bisa
kamu dapat di sekolah atau kampus salah satunya melalui organisasi. Sekarang
gini, kamu pernah ngerasain gimana pusingnya jadi bendahara, besok laporan pertanggung
jawaban keuangan harus diserahkan sedangkan uang yang kamu bawa itu dipinjem
temen dan belum dikembaliin?”
“Belum. Lagian kalau tahu itu uang
bendahara seharusnya nggak usah dipinjem-pinjemin dong,” jawab Alivia bete.
“Nah. Benar. Begitulah teorinya.
Tapi kenyataan itu tak selalu sama dengan teori. Hidup itu bukan hanya sekedar
teori. Beda jauh! Teori bisa saja mengatakan demikian, tapi ketika kamu
menghadapinya real di dunia nyata, belum tentu teori itu bisa diberlakukan
dengan tepat.”
Arya terlihat menarik napas untuk
mengambil jeda sejenak. “Kamu mahasiswa ekonomi. Secara teori, meskipun IP
kamu menurutmu jelek. . .”
“Ih, jahat!” gerutu Alivia sebal.
“Hehe. Ya, secara teori aku yakinlah
kamu menguasai ilmu-ilmu ekonomi. Tapi perwujudan nyatamu apa? Udah ngapain aja
selama ini dengan ilmumu itu?”
Glek! Alivia meneguk ludah,
mengingat memang selama ini dirinya terlalu pasif untuk hal-hal seperti itu. Dia
jadi ingat, banyak temannya mulai menerapakan ilmu ekonominya entah dengan
jualan design kaos, online shop, atau
bahkan memanfaatkan peluang jualan sarapan karena sebagian dari teman kampus
Alivia tidak sempat sarapan.
“Apalah arti teori tanpa praktek,”
lanjut Arya kemudian.
“Ehem, ini jadi kenapa dari tadi
nyindir aku terus sih?”
“Aku bukan nyindir. Kamu hanya
sedang menyangkal dirimu sendiri, Alivia sayang.”
“Ck. Aku kan lagi galau, Kak. Iya
aku tahu semua yang kamu bilang tadi itu benar, aku tahu memang seharusnya
begitu. Tapi emang nggak boleh ya aku nyesek? IP kan juga penting, setidaknya
untuk saat ini.”
“Iya, aku tahu IP juga penting. Kita
juga harus berjuang untuk itu, tapi ketika kita sudah berjuang, apa pantas kita
menyesali perjuangan kita sendiri?”
“Kak, kadang ya, orang yang punya
masalah itu tidak selalu butuh di nasehati, cukup di dengarkan sebenarnya dia
udah seneng.”
Tepat sasaran. Arya di seberang
sana, yang dari tadi merasa berhasil menasehati Alivia, tertunduk diam. Dia
tiba-tiba sadar bahwa dia sudah terlalu banyak berbicara panjang-lebar.
Berhubung saya penulis yang adil, tidak fair rasanya jika saya hanya
menyudutkan salah satu pihak :P
“Iya, iya, maaf. Ya udah dong,
makanya jangan nyesek lagi,” kata Arya mulai merayu. “Dan ngomong-ngomong kamu
bisa nggak turun? Aku udah hampir lumutan berdiri di depan pintu rumahmu.”
Alivia terperanjat. Dia buru-buru
melemparkan teddy bear coklatnya dan turun dari tempat tidur.
“Eh, Kak Ay ke rumah? Kenapa nggak
bilang dari tadi, sihhhh?”
“Gimana mau bilang kalau kamu langsung
ketus kayak tadi.”
“Hehe, iya, maaf. Ya udah tunggu bentar,
aku turun.”
***
“Usaplah
keringat yang mengalir membasahi keningmu
angkatlah ke atas dagumu yang tertunduk layu
Jangan menyerah
angkatlah ke atas dagumu yang tertunduk layu
Jangan menyerah
Jangan
mengalah
Bangunkan,
bangkitkan Semangat Juangmu hingga membara
Yakinkan, pastikan ini puncak segalanya
Berbanggalah karena kau adalah sang juara”
Yakinkan, pastikan ini puncak segalanya
Berbanggalah karena kau adalah sang juara”
Arya
tersenyum di akhir senandungnya sembari menatap Alivia yang berdiri tepat di
depan pintu. Pemuda berperawakan tinggi itu lantas menurunkan gitar coklat yang
memang ia bawa dari rumah dan berjalan mendekat ke arah gadis yang sedang
tersenyum manis dihadapannya.
“Ih,
Kak Ay sumpah nyebelin bangeeeeet,” gerutu Alivia manja.
“Nyebelin?
Nyebelin apa terharu punya pacar sebijak aku?” goda Arya sambil mengerlingkan
mata kanannya.
“Ih,
apa deeehhhh! Pede banget!” Alivia menonjok pelan bahu kanan Arya.
“Udah
yok, jalan! Nyari pengalaman biar kamu nggak galau.” Arya melingkarkan jemari
tangannya pada tangan kanan Alivia.
“Es
krim ya?” rajuk Alivia manja.
“Yeee,
kenapa jadi nodong!”
“Es
krim?”
“Ya
udah, iya iyaa. Udah yok!”
“Yes!
Siap, komandan!”
Dan
mereka pun berlalu meninggalkan penulis yang sedang memeluk bantal dengan muka
pengen ini. Hiks.
***
Kau
luapkan energi terhebatmu
terangi bumi dengan peluh semangatmu
hadirkan buih keringat, basuhi raga
basahi kulit, basahi jiwa, lalu busungkan dada
terangi bumi dengan peluh semangatmu
hadirkan buih keringat, basuhi raga
basahi kulit, basahi jiwa, lalu busungkan dada
Keringat
adalah hasil
jerih payahmu terbayar dengan semangat yang kau ambil
terbang tinggi menuju awan
dimana kau bisa lupakan semua lawan
Stiap langkah, stiap jiwa di tiap langkah Mulai bercerita
wakilkan smua mimpi mimpi yang tenggelam siap menantang bumi
dan kau adalah pemenang
jerih payahmu terbayar dengan semangat yang kau ambil
terbang tinggi menuju awan
dimana kau bisa lupakan semua lawan
Stiap langkah, stiap jiwa di tiap langkah Mulai bercerita
wakilkan smua mimpi mimpi yang tenggelam siap menantang bumi
dan kau adalah pemenang
Bangunkan,
bangkitkan Semangat Juangmu hingga membara
Yakinkan, pastikan ini puncak segalanya
Berbanggalah karena kau adalah sang juara
(Sang juara-Bondan)
Yakinkan, pastikan ini puncak segalanya
Berbanggalah karena kau adalah sang juara
(Sang juara-Bondan)
-THE
END-
Jeng jeng!
As usual, I just wanna share my
opinion. And here it is. . .jadilah seperti ini. Cerpen-cerpen saya, seringkali
memang tidak memenuhi kaidah ke-cerpen-an (?) karena memang ketika saya
menulis, saya jarang memperhatikan hal-hal seperti itu. Nulis ya nulis aja
gitu, hehe.
Sebenernya, ide cerpen ini udah
muncul sejak lama. Sejak saya pengumuman IP dulu, tapi baru sempet selesai
sekarang. Dan lagi-lagi, saya menghadirkan sesosok cewek galau dan hadirnya
seorang cowok sok pahlawan yang menjadi tukang menyelesaikan masalah dengan
(maksa) bijak #nyeh. Saya baru sadar, saya terlalu sering menulis cerpen dengan
cara ini -___-
Well, kata-kata ‘IP bukan
segala-galanya tapi segala-galanya bisa berawal dari IP’ itu adalah
kata-katanya BigBoss, Dosen saya tercute, Bapak Roy. Nada panggilannya si Alivia itu adalah nada panggilannya Mbak Ayu.
Boneka teddy bear itu cuma ada di khayalan saya. Research NACE USA itu saya
googling. Lagu yang dinyanyiin Arya itu lagunya Mas Bondan. Ceritanya si Alit
itu emang bener, cek deh ke acc twitter @shitlicious. IP 3,41 itu adalah IP
saya, errrr *entah harus nangis atau bangga*. Terusss. . .udah kayaknya itu
doang, selebihnya itu berasal dari otak saya.
Oh iya, cerpen ini saya dedikasikan
khusus untuk makhluk-makhluk yang menghuni ruangan lantai 2 samping tangga
gedung depan tiang bendera BDK Jogja :)
Finally, monggo yang sudah baca tinggalkan komentar. Hatur nuhun buat semua-muanya :)
Kamar Kos, 12 Juni 2012
23 : 42
Langganan:
Postingan (Atom)


