Rabu, 01 Agustus 2012

Tidak Selamanya

Aku tahu, tidak selamanya kamu akan menunggu
Pergilah jika memang kamu sudah bosan
karena menunggu memang sesuatu yang membosankan
Tapi. ..
Ku mohon, pergilah dengan tersenyum
karena akan lebih mudah bagiku untuk merelakanmu

Bagian tersulitnya hanyalah
ketika aku merelakanmu pergi
tanpa mengijinkan kamu tahu perasaanku. . .

Aku tahu, tidak selamanya kamu akan berlari
Ada saat dimana kamu merasa lelah
Dan bila tiba saatnya, berhentilah berlari
Carilah tempat persinggahan terdekat

Tapi yakinlah, jika memang aku tempat yang telah disediakan untukmu
dengan berjalan pun, suatu saat kau akan sampai
Di sini. . .

Selasa, 31 Juli 2012

Bukan Diriku (cerpen)

Yuhuuuu, ini sebenernya ada sequel dari cerpen Ku Cinta Kau dan Dia, bagi yang belum baca bisa buka link ini http://www.facebook.com/notes/hanifa-amanati/ku-cinta-kau-dan-dia-cerpen/225182650828456

Enjoy this story :)


Bukan Diriku

Setelah kupahami
Ku bukan yang terbaik
Yang ada dihatimu

Tak dapat ku sangsikan
Ternyata dirinyalah
Yang mengerti kamu
Bukanlah diriku
***

Surat Untuk Calon Pemilik Hati



Teruntuk calon suamiku, yang semoga senantiasa dirahmati Allah.

Aku tahu, engkau tahu kalau cinta adalah anugerah. Kita tidak pernah tahu kapan cinta datang dan akan kepada siapa cinta itu kita berikan. Dan begitulah yang terjadi padaku saat ini.

Maafkan aku, calon imamku, kini aku memendam perasaan itu kepada seseorang yang belum tentu itu dirimu. Maafkan aku jika aku masih sering mencuri-curi pandang ke arahnya. Maafkan aku jika aku tidak bisa mengatur frekuensi detak jantungku saat dia menggodaku. Maafkan aku jika aku tidak bisa menahan bibirku untuk tidak tersenyum saat dia memujiku. Sungguh, hati wanita memang lemah dan Allah selalu menguji tepat di bagian itu.

Calon suamiku, maafkan aku jika aku masih belum bisa seutuhnya menjaga hati ini untukmu. Aku hanya bisa berharap, jika memang kelak dia adalah dirimu maka aku yakin Allah akan mempertemukan kita di saat yang tepat dengan cara terindah. Tapi jika memang bukan, maka biarkanlah perasaan ini hanya aku dan Allah yang tahu. Sungguh, bukan hal yang mudah menahan perasaan ini, tapi untukmu. . .aku akan berusaha. Jika memang rasa ini tidak pada tempatnya, aku hanya berharap ia akan hilang seiring berjalannya waktu.

Aku tahu masih banyak cela dalam diri ini. Aku akan berusaha untuk istiqomah menjaga hati ini, hingga saat tiba waktunya nanti aku akan siap mempersembahkan hati ini seutuhnya untukmu.

Kamar Kos, 30 Juli 2012

Rabu, 25 Juli 2012

Ketika Status Menggalaukanku




Kayaknya membicarakan satu kata ini emang nggak ada habisnya. Gue pernah bikin note dan cerpen khusus tentang masalah ini, tapi toh hasrat untuk membahas satu kata ini selalu muncul. Oh iya sebelumnya, gue lagi macak orang kota nih, jadi maklumin aja yee kalau pakai gue-elo.

Dalam note dan cerpen gue, gue muncul dengan segala argumen tentang status yang kayaknya emang sedang jadi trendsetter ini. Saking (kelihatannya) kekeuh banget sama status jomblo, sampai-sampai ada seseorang yang bilang kalau ilmu jomblo gue udah expert banget =.=

Tapi kemudian, gue jadi mikir, bisakah gue membuktikan minimal satu argumen ‘jomblo adalah pilihan’. Karena kenyataannya, gue belum pernah terjebak dalam suatu kondisi dimana prinsip kejombloan gue benar-benar tergoyahkan.

Selama ini, gue selalu berada dalam kondisi yang memiliki pengontrol untuk tetap berada dalam fase bebas (ehem, jomblo is freedom katanya). Entah itu karena gue nggak suka sama dianya. Entah itu karena dua hati yang sebenarnya saling menunggu, lama, tapi akhirnya mati tanpa tahu T-T
Entah itu karena gue suka tapi cuma diam-diam. Entah itu karena suka-sama-suka tapi dianya udah nggak sendiri (jangan ditiru yaaa). Entah itu karena sama-sama-suka tapi dianya telat nembak. Atau etcetera lah. Yang jelas, semua kondisi yang gue alami belum pernah BENAR-BENAR menggoyahkan status gue.

Nah, yang jadi pertanyaan adalah semisal ada kesempatan yang sangat amat memungkinkan dan gue udah sama-sama nyaman dengan seseorang, apakah iya gue tetep bisa MEMILIH untuk jomblo?

Sekarang gue jadi baru bener-bener ngerti maksud dari ‘jomblo itu nasib, kalau single itu prinsip’. Kata seseorang, jomblo itu nggak pacaran karena belum ada kesempatan, tapi single itu nggak pacaran karena dia memang berprinsip.

Sebagai sebuah analisa (egila bahasa gue sok amat), gue ambil kasus yang baru-baru ini gue alami. Kemarin gue sempet berada dalam kondisi dimana berat untuk berkata ‘tidak’ #ciieee #sok
Nggak berat-berat amat juga sih, cuma pas habis bilang ‘tidak’ itu rasanya jadi pengen nangis. Huaaaaa, gue pengen lebay nih jadinya. Saat itu gue baru sadar, kalau ternyata mempertahankan status jomblo juga bukan hal yang mudah. Oke, singkat cerita akhirnya gue bilang ‘tidak’. Dan singkat cerita, gue masih jomblo.

Yang jadi pertanyaan dari kondisi di atas : gue ini jomblo apa single?

Gue beneran bingung dengan prinsip apa yang sebenernya gue pegang selama ini. Sumpah, beneran deh saat ini gue mendadak galau #pfft.

Gue bukan tipe orang yang anti sama pacaran. Toh, nyatanya gue juga kadang pengen punya pacar.

Kalau gue dibilang single hanya karena kondisi yang udah pernah gue alami, bagi gue itu masih kurang menantang. Gue sekarang malah pengen diuji berada dalam kondisi yang benar-benar menggoyahkan status gue. Gue cuma pengen lihat, apa iya gue masih bisa tetep memilih sendiri?

Kesimpulan dari obrolan nggak jelas ini adalah gue sebenernya masih labil. Masih sangat amat labil. Noh, nyatanya gue belum tahu kan harus berpegang sama prinsip yang mana. Let it flow? Duh, klasik ini klasik -___-

*5 menit kemudian*

Oke, gini aja. Pada akhirnya, setelah garuk-garuk tengkuk, gue menetapkan untuk membuktikan argumen gue sendiri : jomblo adalah pilihan, gue jomblo karena memilih jomblo bukan karena nggak bisa punya pacar. Gue pengen jadi high quality jomblo #fight.

Eits, ini gue bicara dalam konteks pacaran, bukan nikah. Kalau nikah sih gue setuju-setuju aja #SyndromMahasiswaMauWisuda.

Gimana, udah pusing belum? Mari gue ajak ke pembicaraan yang lebih pusing lagi!

Sekarang gue mikir, jomblo atau pacaran itu kan hanya masalah status. Ketika kita hanya bercermin pada STATUS tanpa diikuti dengan niat menjaga diri dari lawan jenis, itu hanya akan menjadikan kita jomblo tapi deket sama banyak orang (uhuk, jiwa keakhwatan gue muncul).

Kayak gue misalnya, karena merasa aman dengan status jomblo, akhirnya gue terlena dan deket sama beberapa orang #sokpayu. Di sinilah sisi egois gue muncul, diajakin ‘iya’ sama salah satu nggak mau, tapi ditinggalin juga nggak mau. HAHAHA.

Gue sadar, yang terpenting adalah menjaga diri dari lawan jenis, bukan menjaga diri dalam kondisi jomblo. Ngakunya jomblo kalau kelakuannya udah kayak orang pacaran kan sama aja #bukangueloh.

Tapi, menjaga diri dari lawan jenis juga tidak lebih mudah dari mempertahankan status jomblo.

Kayak gini nih! Kalau gue udah suka dan deket sama seseorang, hati gue bilang itu jelek. Iya gue tahu, sebagai seorang muslimah kan harusnya gue menjaga hati. Tapi nggak bisa dipungkiri, separuh hati gue yang lain bilang, “Masak iya mau berhenti? Sayang loh udah sampai di sini, jatuh cinta itu anugerah”. Nah kan, galau lagi gue jadinya.

Jadi intinya. . .jujur gue juga bingung intinya apa. Tolong deh siapapun juga yang udah baca tulisan ini, bantu gue menyimpulkan pembicaraan random ini please =.=

Karena gue seorang penulis amatir yang baik yang tidak ingin menambah pembaca makin pusing, maka akan gue akhiri saja pembicaraan yang terlalu ribet dan berbelit-belit ini. Gue cuma berharap, setelah ini gue akan mengalami kejadian-kejadian yang akan memperjelas jati diri gue #sigh.      

Sabtu, 14 Juli 2012

Ketika Kita Disakiti

Pernah disakitin? Gimana rasasanya? Nyesek?
Kalau disakitin, kamu pengennya ngapain? What will you do?




Kalau aku sih pengennya bales nyakitin, kalau bisa LEBIH sakit lagi. PE-NGEN-NYA.

Geregetan sih soalnya, rasanya pengen bilang, "Dikira cuma kamu yang bisa bikin nyesek? Kamu bisa segini, aku bisa bikin kamu lebih nyesek dari ini!" Kalau mau sih bisa. KALAU MAU. Tapi kadang keinginan balas dendam itu terurungkan, karena. . .

Pertama
Akan sangat tidak dewasa apabila kita balas menyakiti orang yang telah menyakiti kita. Kita hanya akan menjadi sama tidak dewasanya dengan dia.

Kedua
Hal terbaik yang bisa kita lakukan kepada orang yang telah menyakiti kita adalah berbuat baik kepadanya. Beban moral yang harus ditanggung orang yang menyakiti itu lebih besar daripada orang yang disakiti. So, berbuat baik kepada orang yang telah menyakiti kita itu setidaknya akan membuat dia merasa bersalah.

Ketiga
Membuat dia menyesal telah menyakiti kita dengan menunjukkan bahwa kita terlalu berharga untuk disakiti. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat dia menyesal telah menyakiti kita.

Yuhuuu, sadis banget kayaknya postingan kali ini :D

Jumat, 13 Juli 2012

Karena Sahabat Tahu

Karena sahabat tahu mana senyum 'beneran' dan mana senyum 'pura-pura'


Ada sepasang sahabat, sebut saja A dan B. Suatu ketika A mendapati B sedang kelihatan galau.

Di posisi A
Nyesek loh rasanya ketika menanyai sahabat yang sedang kelihatan galau dan mendapat jawaban, "Aku nggak gapapa, kok". Pertama, karena seorang sahabat tahu bahwa sebenarnya kamu ada apa-apa. Kedua, merasa nyesek karena itu rasanya sahabat kita tidak percaya untuk bercerita kepada kita. Ketika kita berada di posisi A, sebenernya kita akan lebih senang jika B bercerita kepada kita.

Di posisi B
Terkadang ketika memiliki masalah, kita butuh waktu untuk sendiri dan tidak mau diganggu. Kita tidak mau bercerita kepada sahabat kita bukan berarti kita tidak percaya. Pertama, kita memang lagi pengen sendiri dulu. Kedua, kadang merasa tidak enak kalau harus mengeluhkan masalah di depan sahabat. Takut merepotkan.

Nah, sebenernya pemecahannya gampang. Agar tidak membuat si A merasa nyesek, si B setidaknya bisa mengatakan, "Besok aja deh aku cerita, sekarang lagi pengen diem dulu, hehe". Meskipun besok-besok nggak jadi cerita karena udah lupa, haha. Nggak usah takut merepotkan, karena seorang sahabat tentu akan siap membantu sahabatnya. Mending jujur aja, setidaknya itu bisa membuat si A sedikit tenang. Jangan justru mendiamkannya. Ngelihat temen sedih itu juga bikin 'nggak enak' loh.

Untuk A, jika si B tidak jujur dan tetap mengatakan 'gapapa' itu berarti dia memang lagi pengen sendirian. Ngertiin dia dan jangan dipaksa. Emang kadang nyesek sih dan serba salah mau bersikap seperti apa. Tapi sebagai sahabat, memang kita harus bisa mengerti sahabat kita, kan?


Rabu, 13 Juni 2012

IP oh IP (cerpen)


Arya is calling. . .

Layar ponsel itu berkedip seiring dengan alunan reff Tonight-nya BigBang. Gadis yang sedang rebahan itu meraih ponsel hitam yang tergeletak di samping bantal kesayangannya. Sebelum menekan tombol answer, ia menyusut sisa-sisa air mata di sudut matanya. Entah apa hubungannya menyusut air mata dengan menekan tombol answer.

KLIK!

“Halo, Viaaa,” suara di seberang langsung terdengar.

“Hem,” jawab gadis itu tanpa semangat.

“Hari ini nggak ada acara kemana-mana, kan?”

“Kenapa emangnya?”

Suara di seberang tidak langsung terdengar. Ada jeda cukup lama yang membuat diam di antara mereka berdua. Detik selanjutnya, suara itu kembali terdengar melalui speaker ponsel touchscreen itu. “Tukang batagor langgananmu belum lewat, ya?”

Via mendecak kesal, saat itu juga ia merutuki nasib memiliki kekasih geje seperti Arya. “Ada apa sih, yaaaa?”

“Vi, ini kan belum tanggal lima belas. Belum tanggalnya kamu gampang ngambek sama sensitif kayak gini. Kenapa sih kenapa? Cerita lah!”

Via tidak menjawab, ia ingin memberikan sinyal kepada Arya kalau memang moodnya sedang kelindes truk dan butuh perbaikan. Huh! Mendadak ia benar-benar malas menanggapi kegejean kekasihnya.

Di seberang sana, Arya tiba-tiba mendapat pencerahan tentang hari apa ini. “Oh, aku tahu. Berapa IP-mu?” tanyanya kemudian.

“Jelek. Nggak usah dibahas,” jawab Via sekenanya.

“Nah, ketemu sekarang penyebabnya. Ya udahlah nggak usah ngambek gitu, masa IP yang jelek aku yang kena marah?”

“Siapa yang marah sama kamu?” timpalnya ketus.

“Duuhh, takut deh! Kamu dapet IP segitu atas usaha siapa? Kamu sendiri, kan?”

Alivia tidak menjawab pertanyaan retoris itu. Tangannya meraih teddy bear coklat yang tergeletak di sudut tempat tidurnnya lantas memeluknya. Dibiarkannya Arya melanjutkan pembicaraan itu.

“Apapun yang telah kamu dapat hari ini, itulah cerminan apa yang telah kamu usahakan kemarin. Bagus atau jeleknya IP-mu sekarang itu kan hasil usahamu sendiri.”

“Iya aku tahu itu, tapi tetep aja nyesek rasanya. Targetku nggak kesampaian,” adu Alivia.

“Target berapa kamu?”

“Paling nggak 3,5 lah dan kamu tahu yang aku capai berapa? 3,41. Ini kan baru semester pertama, sedangkan banyak yang bilang IP itu cenderung menurun di tiap semester,” kata Alivia masih dengan nada dingin.

“Itu kan KATANYA bukan FAKTANYA.”

Singkat. Padat. Tapi menohok.

“Dan faktanya, IP-mu sendiri turun, kan?” tandas Alivia.

“Wih, menohok sangat pernyataan dindaku ini.”

“Nah!” kata Alivia dengan nada menang.

“Nah, makanya tugas kamu menghapuskan anggapan yang sudah biasa itu. Buktikan kalau mitos IP makin turun itu tidak berlaku, setidaknya buat kamu.”

“Gampang? Iya ngomongnya.”

“Wuidih, ampun nek, dingin banget komentarnya. Udahlah, IP itu bukan segala-galanya, kan?”

“Iya. Tapi segala-galanya bisa berawal dari IP,” sambar Alivia cepat.

“Termasuk kamu jadi ganas begini juga berawal dari IP?” Arya membalas langsung pada sasaran.

“Ck.”

“Memangnya kalau IP-mu tinggi itu menjamin kamu sukses? Tidak. IP itu hanya mengantarkan kamu setidaknya sampai tahap wawancara, setelah itu di dunia kerja, IP itu bukan hal penting lagi.”

Alivia tidak menanggapi, seperti biasa jika sudah mulai serius seperti ini, sang mantan ketua OSIS itu akan mulai berorasi.

“Well, setidaknya ada 9 kecerdasan yang dimiliki manusia. Salah satunya kecerdasan matematika-logika dan kecerdasan bahasa yang sering dikategorikan sebagai kecerdasan intelektual yang dulu sering dianggap sebagai faktor kepintaran seseorang. Tapi apakah kalau pintar lantas menjamin kita sukses? Tidak. Ada sebuah penelitian, kalau nggak salah dari NACE USA aku juga lupa, yang menyatakan bahwa 457 pimpinan perusahaan bilang IP bukanlah hal yang dianggap penting dalam dunia kerja. Yang jauh lebih penting adalah sotfskill antara lain kemampuan komunikasi, kejujuran, kerjasama, motivasi, kemampuan beradaptasi dan kemampuan interpersonal dengan orientasi nilai pada kinerja yang efektif.”

Nah kan iya, tidak salah dulu pacarnya itu terpilih sebagai ketua OSIS. Tuh, nyatanya pinter banget kalau suruh ngomong. Alivia, meskipun dalam hati membenarkan semua perkataan Arya, tetap saja memasang muka cemberut mendengarkan nasihat kekasihnya itu.

“Dan kamu tahu softskill tersebut masuk dalam kecerdasan apa? Kecerdasan emosional. Gini deh, kamu tahu akun twitter shitlicious?”

“Iya, kenapa?”

“Kalau kamu pernah baca bukunya, yang skripshit, kamu bakalan bener-bener sadar kalau IP bukanlah sesuatu yang menentukan masa depan. Dia, si alit itu, pernah dapet IP satu koma dan sampai sekarang pun dia belum lulus kuliah. Entah udah berapa belas semester dia selami. Tapi toh nyatanya dia termasuk orang sukses sekarang. Di salah satu bab dalam bukunya, dia mengatakan kalau sekolah dan kampus itu bisa mendidik kita menjadi orang pintar, tapi hidup dan segala pengalaman bisa mendidik kita menjadi orang benar.”

Gadis berambut panjang itu menggerakkan jari telunjuknya mengikuti bordiran ‘love’ di bagian dada teddy bear coklatnya. Merasa jengkel. Entah karena yang dibicarakan Arya terlalu jleb baginya, atau entah karena dia males mendengarkan nasihat Arya. Saya juga tidak tahu.

Sayup-sayup Arya melanjutkan penjelasannya.

“Dan pengalaman seperti itu bisa kamu dapat di sekolah atau kampus salah satunya melalui organisasi. Sekarang gini, kamu pernah ngerasain gimana pusingnya jadi bendahara, besok laporan pertanggung jawaban keuangan harus diserahkan sedangkan uang yang kamu bawa itu dipinjem temen dan belum dikembaliin?”

“Belum. Lagian kalau tahu itu uang bendahara seharusnya nggak usah dipinjem-pinjemin dong,” jawab Alivia bete.

“Nah. Benar. Begitulah teorinya. Tapi kenyataan itu tak selalu sama dengan teori. Hidup itu bukan hanya sekedar teori. Beda jauh! Teori bisa saja mengatakan demikian, tapi ketika kamu menghadapinya real di dunia nyata, belum tentu teori itu bisa diberlakukan dengan tepat.”

Arya terlihat menarik napas untuk mengambil jeda sejenak. “Kamu mahasiswa ekonomi. Secara teori, meskipun IP kamu  menurutmu jelek. . .”

“Ih, jahat!” gerutu Alivia sebal.

“Hehe. Ya, secara teori aku yakinlah kamu menguasai ilmu-ilmu ekonomi. Tapi perwujudan nyatamu apa? Udah ngapain aja selama ini dengan ilmumu itu?”

Glek! Alivia meneguk ludah, mengingat memang selama ini dirinya terlalu pasif untuk hal-hal seperti itu. Dia jadi ingat, banyak temannya mulai menerapakan ilmu ekonominya entah dengan jualan design kaos, online shop, atau bahkan memanfaatkan peluang jualan sarapan karena sebagian dari teman kampus Alivia tidak sempat sarapan. 

“Apalah arti teori tanpa praktek,” lanjut Arya kemudian.

“Ehem, ini jadi kenapa dari tadi nyindir aku terus sih?”

“Aku bukan nyindir. Kamu hanya sedang menyangkal dirimu sendiri, Alivia sayang.”

“Ck. Aku kan lagi galau, Kak. Iya aku tahu semua yang kamu bilang tadi itu benar, aku tahu memang seharusnya begitu. Tapi emang nggak boleh ya aku nyesek? IP kan juga penting, setidaknya untuk saat ini.”

“Iya, aku tahu IP juga penting. Kita juga harus berjuang untuk itu, tapi ketika kita sudah berjuang, apa pantas kita menyesali perjuangan kita sendiri?”

“Kak, kadang ya, orang yang punya masalah itu tidak selalu butuh di nasehati, cukup di dengarkan sebenarnya dia udah seneng.”

Tepat sasaran. Arya di seberang sana, yang dari tadi merasa berhasil menasehati Alivia, tertunduk diam. Dia tiba-tiba sadar bahwa dia sudah terlalu banyak berbicara panjang-lebar. Berhubung saya penulis yang adil, tidak fair rasanya jika saya hanya menyudutkan salah satu pihak :P

“Iya, iya, maaf. Ya udah dong, makanya jangan nyesek lagi,” kata Arya mulai merayu. “Dan ngomong-ngomong kamu bisa nggak turun? Aku udah hampir lumutan berdiri di depan pintu rumahmu.”

Alivia terperanjat. Dia buru-buru melemparkan teddy bear coklatnya dan turun dari tempat tidur.

“Eh, Kak Ay ke rumah? Kenapa nggak bilang dari tadi, sihhhh?”

“Gimana mau bilang kalau kamu langsung ketus kayak tadi.”

“Hehe, iya, maaf. Ya udah tunggu bentar, aku turun.”
 ***

“Usaplah keringat yang mengalir membasahi keningmu
angkatlah ke atas dagumu yang tertunduk layu
Jangan menyerah
Jangan mengalah

Bangunkan, bangkitkan Semangat Juangmu hingga membara
Yakinkan, pastikan ini puncak segalanya
Berbanggalah karena kau adalah sang juara”

Arya tersenyum di akhir senandungnya sembari menatap Alivia yang berdiri tepat di depan pintu. Pemuda berperawakan tinggi itu lantas menurunkan gitar coklat yang memang ia bawa dari rumah dan berjalan mendekat ke arah gadis yang sedang tersenyum manis dihadapannya.

“Ih, Kak Ay sumpah nyebelin bangeeeeet,” gerutu Alivia manja.

“Nyebelin? Nyebelin apa terharu punya pacar sebijak aku?” goda Arya sambil mengerlingkan mata kanannya.

“Ih, apa deeehhhh! Pede banget!” Alivia menonjok pelan bahu kanan Arya.

“Udah yok, jalan! Nyari pengalaman biar kamu nggak galau.” Arya melingkarkan jemari tangannya pada tangan kanan Alivia.

“Es krim ya?” rajuk Alivia manja.

“Yeee, kenapa jadi nodong!”

“Es krim?”

“Ya udah, iya iyaa. Udah yok!”

“Yes! Siap, komandan!”

Dan mereka pun berlalu meninggalkan penulis yang sedang memeluk bantal dengan muka pengen ini. Hiks.
***

Kau luapkan energi terhebatmu
terangi bumi dengan peluh semangatmu
hadirkan buih keringat, basuhi raga
basahi kulit, basahi jiwa, lalu busungkan dada

Keringat adalah hasil
jerih payahmu terbayar dengan semangat yang kau ambil
terbang tinggi menuju awan
dimana kau bisa lupakan semua lawan
Stiap langkah, stiap jiwa di tiap langkah Mulai bercerita
wakilkan smua mimpi mimpi yang tenggelam siap menantang bumi
dan kau adalah pemenang
Bangunkan, bangkitkan Semangat Juangmu hingga membara
Yakinkan, pastikan ini puncak segalanya
Berbanggalah karena kau adalah sang juara
(Sang juara-Bondan)

-THE END-

Jeng jeng!
As usual, I just wanna share my opinion. And here it is. . .jadilah seperti ini. Cerpen-cerpen saya, seringkali memang tidak memenuhi kaidah ke-cerpen-an (?) karena memang ketika saya menulis, saya jarang memperhatikan hal-hal seperti itu. Nulis ya nulis aja gitu, hehe.

Sebenernya, ide cerpen ini udah muncul sejak lama. Sejak saya pengumuman IP dulu, tapi baru sempet selesai sekarang. Dan lagi-lagi, saya menghadirkan sesosok cewek galau dan hadirnya seorang cowok sok pahlawan yang menjadi tukang menyelesaikan masalah dengan (maksa) bijak #nyeh. Saya baru sadar, saya terlalu sering menulis cerpen dengan cara ini -___-

Well, kata-kata ‘IP bukan segala-galanya tapi segala-galanya bisa berawal dari IP’ itu adalah kata-katanya BigBoss, Dosen saya tercute, Bapak Roy. Nada panggilannya si  Alivia itu adalah nada panggilannya Mbak Ayu. Boneka teddy bear itu cuma ada di khayalan saya. Research NACE USA itu saya googling. Lagu yang dinyanyiin Arya itu lagunya Mas Bondan. Ceritanya si Alit itu emang bener, cek deh ke acc twitter @shitlicious. IP 3,41 itu adalah IP saya, errrr *entah harus nangis atau bangga*. Terusss. . .udah kayaknya itu doang, selebihnya itu berasal dari otak saya.

Oh iya, cerpen ini saya dedikasikan khusus untuk makhluk-makhluk yang menghuni ruangan lantai 2 samping tangga gedung depan tiang bendera BDK Jogja :)

Finally, monggo yang sudah baca tinggalkan komentar. Hatur nuhun buat semua-muanya :)  


Kamar Kos, 12 Juni 2012
23 : 42