Selasa, 15 Januari 2013

Forgive Me

Setelah melepaskan helmnya, Daniel memastikan tatanan rambutnya tidak berantakan melalui kaca spion motornya. Setelahnya, dia melangkah panjang dan bergegas menaiki lift dari area parkir basement sebuah pusat perbelanjaan. Dia menarik dengan cepat ponsel dari saku celananya dan segera menekan tombol speed dial untuk menghubungi seseorang.

Daniel mendekatkan ponselnya ke telinga dan suara nyaring segera menggantikan nada sambung yang baru sekali terdengar.

“Ze, aku udah sampai kamu dimana?”

“Langsung ke atas aja, aku di depan Nachos.”

“Okee.”

The Simple Refrain



When I read this book, saya bisa membayangkan dengan jelas setiap adegannya. Otak saya seperti sedang memutar sebuah film. Jelas sekali. Detail. Saya seolah-olah sedang menonton Refrain versi filmnya. Mungkin karena saya pernah menemukan hampir semua bagian adegan Refrain ini di film.

Jadi, Refrain ini bagi saya sederhana. Entah karena temanya sudah biasa atau memang temanya yang dekat dengan pembaca, tapi saya merasa. . .saya sudah sering banget dengan cerita seperti ini. Hampir tidak ada kejutan. Bagian yang mengejutkan adalah ketika Niki yang cheers abis pada akhirnya mengabdikan diri sebagai seorang guru SD, mehehe, rada kaget juga. Abis kayak kurang pas gitu.

But, I like it. Saya selalu suka dengan cerita persahabatan, cerita anak sekolahan, dan yah memang deket banget. Banyak quotes yang ngena, yang bikin saya nggak bisa menyangkal dan bilang “oh, iya ya”. Intinya, Refrain ini sederhana yang tidak sederhana. Nah loh?

Saya suka dengan Nata yang karakternya cuek tapi peduli, sarkastik, tapi so sweet juga u,u. Niki yang selalu bersemangat, energinya sampai ke saya. Annalise, mmm, saking calmnya bagi saya justru agak tenggelam di sini. But, saya merasa dia adalah pihak yang sebenernya paling nyesek di sini T-T. Oliver, jujur saya tidak terlalu suka, too good too be true. Padahal sempet ngerasa keren pas bagian pertama dia ngajak kenalan Niki, tapi ternyata sama aja. Helena, yah, seperti tokoh antagonis kebanyakan. Punya kakak kayak Danny? Boleh juga kayaknya :D

Refrain bisa memaksa saya untuk tidak bisa berhenti membaca sebelum halaman terakhir. Refrain bisa membuat saya ikut menulis. Dan itu cukup bagi saya untuk mengatakan bahwa novel ini. . .recomended :)

Jumat, 11 Januari 2013

Oleh-oleh dari Negeri 5 Menara


Orang berilmu dan beradab tidak akan berdiam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan.

(Imam Syafii)

Rabu, 09 Januari 2013

Ku Di Sini, Kau Di Sana


"Selamat ya, Elya, atas terpilihnya sebagai Ketua HIMIKA 2013. Elo keren banget, El!"
(Adin to Elya, 27 Desember 2012)

Hari itu, seharian mood saya dalam ambang batas amat baik sebelum akhirnya mendapat sebuah kabar yang praktis bikin saya galau dadakan. Udah sering sih saya mendadak galau, nggak perlu dikhawatirin lagi. Lagian juga kagak ada yang khawatir sama saya *brb berteduh di bawah shower*.

Minggu, 06 Januari 2013

Sehat : Yeay!


“Kita baru akan mensyukuri sehat justru saat sakit datang.”

Hari ini, saya benar-benar merasakan kebenaran kalimat di atas. Betapa sehat adalah salah satu nikmat yang sering kita lupa untuk mensyukurinya. Betapa sehat itu emang enak banget. Ceilah, tumben saya bijak banget gini.

Rabu, 19 Desember 2012

The Great 5 cm!


Saya mungkin termasuk orang yang telat baca 5 cm. Gimana enggak, saya baru baca novel best seller ini enam tahun sejak dia terbit pertama kali, gilak! Saya beli novel ini 11 Agustus 2011 atas rekomendasi dari Nindy, temen saya di Cirebon yang selalu excited ngomongin Mahameru. Akhirnya, setelah dikompor-komporin beberapa lama, saya nyasar di toko buku, sendirian, malem-malem, waktu itu sih gara-gara main bareng temen dan saya kehilangan jejak mereka. Alhasil, kesasar malem itu mempertemukan saya dengan novel item setebal 3 cm ini.


Selasa, 13 November 2012

Sunset Bersama Rosie (A Novel by Tere Liye)


Duduklah sebentar, aku ingin menceritakan kisah mereka. Kau tahu Tegar? Ya, Tegar. Kalau bagi keponakannya-Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili-dia adalah paman yang hebat, super, dan keren, tapi tidak bagiku. Kalau bagi Rosie dia adalah sahabat terbaik, tapi tidak bagiku. Kalau bagi Oma dia adalah anak yang amat baik, tapi tidak bagiku. Kalau bagi bosnya dia adalah aset terbaik perusahaan, tapi tidak bagiku. Terlepas dari itu semua, aku tidak suka dengan dia. Dia banyak menyakiti Sekar, dan bahkan terkadang dia tidak sadar. Entahlah, aku terlalu memikirkan Sekar memang.

Tegar jahat, ah tidak tidak, mungkin dia hanya bodoh. Tegar bodoh. Sekar juga bodoh. Tidak, mereka sebenarnya tidak salah, hanya mungkin cinta memang tidak pernah baik pada mereka. Dan memang, sekali lagi, aku mengerti bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Hati tidak memilih.