Senin, 25 Agustus 2014

Everybody's Changing





Pernah nggak waktu reunian, ada salah satu temen bikin kita bilang, “Gilak lo sekarang berubah banget!”

Bukan ADA, tapi BANYAK. Kalau kata @suamibawel pasti kita banyak nemuin temen yang dulu promising, sekarang terlihat well different. Dulunya dipandang sebelah mata, sekarang cebok aja pake dollar. Dulunya nyolot sekarang alim. Dulunya alim sekarang moderator millis maria ozawa.

Ngakak juga waktu baca tulisan di atas. Tapi emang bener banget, sih. Semua hal di dunia ini pasti berubah. Mungkin lingkungan kita, mungkin orang-orang di sekitar kita, atau mungkin diri kita sendiri. Nggak ada yang pasti. Hidup pasti berubah, hidup pasti berkembang seiring dengan kita bertemu orang baru, mengunjungi tempat baru, punya wawasan baru.

So, how do they see me, today?

Kamis, 14 Agustus 2014

Curhat



Fathia meletakkan tasnya.Kebetulan dia tidak ada agenda apapun, jadi setelah kuliah sore selesai dia langsung pulang ke kos. Lumayan, kapan lagi punya waktu luang seperti ini.

“Di, keluar yuk. Suntuk gue,” katanya seraya merebah kan tubuh.

Diah nyengir. “Gue udah janjian ama Riki mau keluar makan.”

Pfft. Gini nih nasib punya teman berpacar. Dulu Fathia dan Diah selalu nyari makan bareng, tapi semua berubah semenjak Negara api menyerang.

“Pantesan udah mandi. Nasib ya punya sohib udah pada punya pacar.”
Diah menyemprotkan parfum ke tubuhnya. “Ya makanya buruan nyari. Idup lo sih habis di kampus doang, ck.”

“I don’t careeee. Gue mandi dulu, ntar nitip sekalian beliin makanan aja deh, jadi nggak napsu buat keluar.” Fathia beranjak menuju kamar mandi. Diah hanya terkikik geli.

***

Ponsel berwarna abu-abu itu berdering, layarnya berkelap-kelip menampakkan nama seseorang. Keanu.

“Hoi, kenapa, Ken?” seru Fathia.

“Sibuk nggak? Pengen ngobrol doing.”

Pengen ngobrol doang. Sebagai seseorang yang sudah berkiprah dalam dunia percurhatan, Fathia paham betul apa artinya.

“Alah gaya looo. Putri kenapa lagi?” Fathia langsung menyebutkan nama cewek yang sedang di-pdkt-in sama Ken.

”Hehe, tahu aja lo.”

“Bentar gue nyari headset dulu.” Setelahnya, Fathia langsung grudak-gruduk bukain tas buat nyari headset. Nggak enak kalau harus ngobrol lama sambil nempelin ponsel ke telinga.

Bertepatan dengan itu, muncul Tari—tetangga sebelah kamar—ke kamar Fathia. “Fa, minjem setrikaan dong. Cieeee, yang mana lagi nih yang telepon,” goda Tari saat melihat Fathia sedang telepon.

Fathia memang sering ditelepon oleh orang-orang berbeda. Hari iniA, besok B, besoknya C. Kadang temen-temen kosan sampai mengadakan sayembara tebak siapa yang telepon Fathia. Ckck.

“Tuh,” kata Fathia cuek nunjuk tempat setrikaan. “Halo, Ken. Bentar ada gangguan.”

“Ntar balikin di situ lagi aja,” katanya pada Tari. Setelahnya, dia berlari keluar kamar. “Gimana gimana?” katanya pada Keanu.

“CIEEEEE,” Tari masih menggoda. “Gue nggak nguping kok, Fa.”

***

Bip! Satu BBM masuk.

Gunawan : Faaaaaaa
Fathia : Guuuuun
Gunawan : Udah makan?
Fathia : belum *tear* masih nunggu Diah pulang

Gunawan adalah teman semasa SMA yang sekarang melanjutkan kuliah di UNAIR. Gunawan sudah berpacar, namun dia masih sering menghubungi Fathia—di hari selain Sabtu Minggu. Fathia sebenernya tahu, Gunawan hanya menghubunginya kala merasa kesepian akibat LDR. Nyatanya, tiap Gunawan balik ke Jogja—which is pacarnya di Jogja—dia mendadak menghilang dari peredaran. Sama sekali tidak menghubungi Fathia.

Fathia sih fine aja.Toh selama ini, obrolan mereka hanya sekedar obrolan haha hihi. Obrolan pengusir sepi.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Diah masuk dengan muka jangan-tanya-apapun-gue-lagi-bete. Setelah menaruh satu bungkus tas plastik—mungkin berisi makanan pesanan Fathia—secara asal, Diah langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur, memeluk guling. Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
Fathia menghembuskan napas, dia tahu ini saatnya dia keluar dari kamar.

***

Fathia berada di lantai tiga kosannya. Di sini adalah tempat jemur baju, jadi tanpa atap. Tiap malam memang sering digunakan untuk nongkrong sambil nonton bintang. Untung saat ini sedang tidak ada siapa pun.

Fathia duduk tanpa alas, memeluk kedua lututnya dan menengadah. Memandang jutaan bintang di luar sana. 

Disadari atau tidak, akan ada banyak hal yang berubah saat satu per satu teman sudah memiliki pasangan. Waktu bersama dengan teman pasti akan berkurang. Biasanya hang out kemana-mana bareng, sekarang dia udah sama pacarnya. Kamu juga harus lebih banyak mengerti, jika pada akhirnya dia lebih banyak berbagi kepada pacarnya. Harus relas nyesek melihat  temen mesra-mesraan atau rela bingung bersikap saat mereka sedang berantem.  

Tidak ada manusia yang bisa terus kuat, begitu pun Fathia. Ia kadang merasa kesepian. Masih jomblo sedang yang lain sudah memiliki gandengan. Fathia memang memiliki banyak teman, yang curhat sama dia juga banyak. Tapi resikonya adalah, dia dianggap memiliki banyak teman dekat. Bersembunyi dibalik kata ‘teman’ untuk nyari aman, untuk dapat dekat dengan banyak orang.

“Kan lo tinggal milih. Mau sama yang mana? Hahaha.”

“Kayaknya lebih enak deketin yang udah punya pacar, saingannya jelas cuma satu. Pacarnya. Nah kalo ngedeketin elo, Fa, saingannya bejibun.”

Whatever they say. Fathia udah terlalu kebal dengan perkataan seperti itu. Mungkin orang-orang tidak pernah tahu bahwa cowok-cowok yang sering nelpon itu dalam rangka curhat, nyeritain cewek lain. Percuma juga menjelaskan semua itu ke orang-orang.

Tiba-tiba ponsel Fathia bergetar. Riki’s calling.

“Halo?”

“Fa, Diah udah tidur ya? Kok gue telepon nggak diangkat.”

“Mungkin. Dia begitu dateng langsung rebahan meluk guling. Gue lagi di atas sekarang.”

“Oh ya udah. Nitip dia ya, dia belum makan. Tadi kami belum sempet makan, dia udah minta pulang.”

“Okee.”

Sambungan dimatikan. Fathia tersenyum miris. Dia sendiri belum makan lhoo yaa, hahaha.
Jadi jomblo yang harus memahami banyak orang itu semacam kamu kedinginan tapi masih harus menyelimuti orang lain.   

Selasa, 12 Agustus 2014

Life is about Learning



Aku percaya bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu bukan tanpa alasan. Dialah Sang Maha Perencana. Selalu ada maksud di balik setiap takdir-Nya. Begitu pun rencana-Nya menempatkanku di kota ini, sekarang.

Dulu, aku adalah anak yang sangat bergantung dengan teman (perempuan). Ke kantin harus ada temennya, solat di mushola kampus/sekolah harus ada temennya, ke ruang guru harus ada temennya, makan di luar harus ada temennya. Aku tidak pernah melakukannya sendirian. Aku selalu membutuhkan mereka untuk menemaniku, aku tidak ingin sendirian.

Sampai pada akhirnya Tuhan menyuruhku untuk belajar.




Waktu itu aku magang bersama empat belas teman. . .laki-laki. Awalnya aku sempat berontak, kenapa Tuhan membiarkan aku sebagai satu-satunya perempuan di antara mereka. Sedangkan aku belum mengenal siapapun di tempat itu. Bagaimana aku bisa beradaptasi tanpa seorang teman (perempuan), sedangkan untuk berjalan saja biasanya aku menggandeng seseorang di sebelahku—aku tidak bisa melakukannya kepada mereka, kan?

Tapi benar kata Dr. Seuss, sometimes you will never know the value of something, until it becomes a memory. Sekarang aku mengerti kenapa waktu itu Tuhan membiarkanku sendiri. Karena jika aku masih diberi teman, pasti akan lebih susah untukku menyesuaikan diri di tempat baruku. Setidaknya, sekarang aku sudah berani sendiri.

Mungkin suatu hari nanti aku juga akan menemukan alasan mengapa Tuhan menyuruhku ke tempat ini. Aku yakin ada rencana besar kenapa aku berada di sini sekarang. Aku hanya perlu belajar, karena di sini ada banyak hal baru yang menunggu untuk di-explore. Bukankah hidup itu tentang belajar? Kamu bertemu dengan orang baru, kamu belajar. Kamu bertemu dengan lingkungan baru, kamu belajar. Meskipun terkadang kamu baru akan ‘mengerti’ setelah kamu melaluinya.

Hidup semua orang itu sejatinya sama. Dari lahir, sampai nunggu mati. Yang membedakan adalah how much they learn and how much they do.

We still having many things to learn, many places to go, many books to read, many people to meet, many notes to write. Doing something and sharing to others, let’s be a usefull person :)

Rabu, 15 Januari 2014

Facts About Me

  1. Anak pertama dari empat bersaudara
  2. Moody
  3. Drama queen
  4. FTV minded
  5. Melankolis
  6. Introvert
  7. Minderan
  8. Penikmat es teh
  9. Suka suasana senja dan bintang
  10. Lebih suka tempe daripada tahu
  11. Punya hape SE K310i dan nomor XL yang nggak pernah ganti sejak jaman SMP
  12. Gampang banget terpengaruh dengan apa yang dia lihat dan apa yang dia baca
  13. Kalau lagi sendirian suka ngelakuin hal-hal aneh (ex : ngomong sendiri)
  14. Cenderung akan memesan menu yang sama di tempat makan yang sama
  15. Nggak suka kalau lagi nulis diliatin
  16. Lebih suka warna kalem dan nggak pede pakai pakaian dengan warna-warna gonjreng atau tabrak warna
  17. Nggak menyukai perubahan, karena merasa sulit beradaptasi
  18. Lebih suka menguatkan relasi lama meski sedikit dibanding cari yang baru
  19. Selera musik rendah, hanya mendownload dan mendengarkan lagu-lagu yang sedang hits
  20. Tempat nangis favorit : kamar mandi (cause nobody can't see that I'm crying, haha) dan kamar tidur (biasanya kalau nangis sambil ngaca)
  21. Nonton film TITANIC pertama kali pada 4 Desember 2012 (karena sejak jaman SD, TITANIC itu katanya film dewasa, makanya nggak berani nonton)
  22. Pemalu kalau lagi kenal sama orang, kalau udah nyaman whatever I will be will be
  23. Pernah 4L4Y (dan mungkin masih :D)
  24. Pernah dapet cium pipi dari cowok saat kelas 1 SD
  25. Suka banget nyimpen barang dan kenangan (makanya cenderung susah move on)
  26. Cinta sama matematika dan nyerah sama fisika
  27. Waktu SMA pernah ngebela-belain tiap pagi bersih-bersih UKS cuma buat lihat gebetan lewat--which is ruang kelasnya gebetan sampingan sama UKS, LOL
  28. Punya kotak berisi kumpulan surat-surat yang ditulis sejak jaman SD
  29. Paling nggak bisa marahan sama temen
  30. Hobi waktu SMA : nyebar SMS galau
  31. Pernah mendekam 3 bulan di Pendidikan Matematika UNY
  32. Nama panggilan paling populer : Sunip
  33. Tidak suka terjebak di komunitas lain
  34. Suka ngayal
  35. Kalau udah di depan laptop sambil nulis suka lupa daratan
  36. Pernah mimpi nikah sama cowok namanya Angga (padahal nggak punya temen namanya Angga)
  37. Suka banget sama muka bangun tidur
  38. Merasa seksi kalau lagi ngerjain pekerjaan rumah tangga dengan pakaian yang udah kucel, keringetan, rambut kuncir kuda
  39. Punya luka hitam di mata kanan bekas kuku temen saat SD
  40. Paling sering jadi pembaca UUD kalau tugas upacara
  41. Suka ngoleksi ID Card kepanitian
  42. Satu-satunya boneka yang dipunya adalah bantal bentuk anjing lagi tidur hasil dikasih sodara saat jaman SMP
  43. Excited tiap lihat jajaran paskibraka
  44. Suka teriak berlebihan kalau nonton bulutangkis
  45. Pengen punya kisah cinta yang seromantis di film atau novel 
  46. Nggak bisa nelen obat, kalau minum obat harus digerus

Rabu, 20 November 2013

Let Me Tell You (Review Novel ‘Morning Light’)


Pertandingan perempat final sepak bola antara SMA 135 dan SMA 315 sudah dimulai. Aku duduk di belakang gawang SMA 315 bersama temanku.
“Siapa namanya?” tanya Nadia, temanku, sambil menunjuk seorang cowok yang sedang menggiring bola di tengah lapangan.
“Devon,” jawabku singkat.
“Kenapa permainannya payah begitu?” komentarnya. Devon bermain tidak fokus, berkali-kali dia membuat kesalahan.
“Mungkin, dia sedang menunggu seseorang.”
“Siapa?”
Belum sempat aku menjawab, cewek manis yang duduk di sebelah kami berujar dengan nada kesal. “Kemana saja kalian? Pertandingan sudah berjalan selama 15 menit!”
“Sorry… sorry… ini gara-gara aku,” kata cewek berkacamata yang baru saja datang dengan nada penuh penyesalan.
“Sebenarnya, kami sudah selesai makan dari tadi tapi dia nggak mau ke sini sebelum mendapatkan ini!” kata satu-satunya cowok di antara mereka bertiga sambil mengacungkan tas plastik.
Nadia yang sedang memperhatikan mereka bertiga kemudian menoleh ke arahku. “Kalau mereka siapa? Apa mereka yang ditunggu Devon?” tanyanya.
“Cewek mungil itu Agnes, yang pakai kacamata namanya Sophia, kalau yang cowok itu namanya Julian,” sebutku. “Mereka bertiga sahabatnya Devon. Sophie adalah sahabat sejak kecil, bahkan rumahnya bersebelahan. Sedangkan Agnes dan Julian baru berteman sejak masuk SMA. Mereka berempat tinggal satu komplek.”
Nadia hanya mengangguk sambil membulatkan bibirnya tanda ‘oh!’
“Agnes itu jago masak, manis, suka senyum. Kalau Sophie itu sadis, cuek sama penampilan, peduli dengan teman, suka nulis. Eh, emm, mungkin sih. Tapi dia jago fotografi sebenarnya. Devon, seperti yang kamu lihat. Dia jago sepak bola, anaknya usil. Yang aku suka si Julian. Dia paling baik menurutku, pintar, dewasa pula,” jelasku panjang lebar.
Kami berdua kemudian menengok ke samping ketika tiba-tiba cewek bernama Sophie beranjak dari duduknya. Mata kami mengikuti ke arah dia berjalan.
“HOI BODOH! APA YANG KAMU LAKUKAN? JANGAN MEMBUAT MALU!!!!” teriak Sophie dari tepi podium.
Nadia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Sophie yang sedang berdiri berkacak pinggang. “Kenapa dia melakukan itu?”
“Dia harus mengingatkan Devon, karena kalau permainan Devon masih seperti itu, Devon bisa dimarahi habis-habisan oleh ayahnya.”
“Ayahnya?”
“Ya. Devon adalah putra Ruslan Jayadi, mantan pemain sepak bola, andalan PSIS dulu. Kamu tahulah, sebagai anak laki-laki satu-satunya, ayahnya menaruh harapan besar padanya untuk meneruskan mimpi.”
“Hidup dalam bayang-bayang keberhasilan orang lain,” gumam Nadia.
“Benar. Tidak hanya Devon sebenarnya. Mereka bertiga juga,” kataku sambil menggerakkan dagu ke arah Agnes, Sophie, dan Julian. “Mereka itu bunga matahari yang berusaha mengejar matahari. Padahal, bunga matahari sendiri sudah cantik. Yah, seperti katamu, karena hidup dalam bayang-bayang keberhasilan orang lain, mereka berusaha mengejar bayang-bayang itu hingga mengabaikan kalau sebenarnya mereka memiliki potensi masing-masing.”
Nadia mengangguk-angguk lagi, kemudian kembali menonton pertandingan.
“Kereeeeen!” pekiknya melihat permainan Devon yang sudah berubah 180 derajat. Nadia langsung melirik ke arah salah satu dari mereka bertiga—Agnes, Sophie, dan Julian—kemudian menoleh ke arahku dengan muka jahil. “Pasti ada kisah friendzone di antara mereka?”
Aku tersenyum geli. “Begitulah.”
“CUT!” suara sang sutradara terdengar lantang. “Oke, kita break dulu sebelum masuk ke scene berikutnya,” perintahnya.
“Keluar yuk beli minum, haus!” ajak Nadia. Meski hanya sebagai pemain figuran, kami berdua cukup lelah mengikuti jadwal syuting seharian ini.
“Eh ngomong-ngomong, kamu kok udah tahu detail karakter mereka dan jalan cerita film Morning Light? Padahal, kan, baru syuting?” tanya Nadia.
“Film ini kan diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Dan aku sudah pernah membacanya.”
“Benarkah? Boleh pinjam?”
“Oke. Nanti mampir ke rumahku, ya!” Dan kami pun keluar stadion untuk mencari Pocari Sweat.
***
           “Wih, sampulnya keren. Menarik!” komentar Nadia begitu ia melihat novel dengan warna sampul dominan kuning itu. “Oh, jadi ini karya Mbak Windhy Puspitadewi? Pengarang Let Go itu, kan?”
            “Iya. Pernah baca?”
            “Pernah, keren! Gagas Media juga ini?”
“Yap!”
“Pantes sampulnya keren, bukunya Gagas kan sampulnya juara.” kemudian Nadia membalikkan novel itu, diam sejenak--mungkin dia sedang membaca sinopsis di sampul belakang.

Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia : matahariku. Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup—malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.
Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri. Aku bahkan mengabaikan suara lirih di dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?

“Kayak kisah cinta, ya?” ujarnya setelah—mungkin—selesai membaca sinopsisnya.
“Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi ternyata enggak. Ini cerita persahabatan, ya meskipun ada kisah cintanya juga sebagai bumbu. Kalau kamu baca ceritanya, sinopsisnya tetep nyambung kok sama isinya.”
Dia kemudian mulai membuka-buka halaman depan novel itu. “Tahun 2010. Berarti duluan Let Go,” gumamnya. “Gaya bahasanya tetep baku kayak di Let Go?”
“Iya, khas Mbak Windhy pokoknya. Baku, aku-kamu, tapi nggak ngebosenin. Itu yang aku suka dari gaya tulisannya Mbak Windhy. Eh, ada juga. Humornya. Humornya Mbak Windhy itu berkelas, enggak murahan, meskipun pakai bahasa baku, aku tetep bisa terkikik kalau baca.”
Nadia mengangguk-angguk sambil tetap membolak-balikkan halaman demi halaman novel. “Eh, tapi novel ini tipis juga ya, 175 halaman.”
“Yap, aku nggak sampai sehari udah selesai baca. Tipis memang, tapi apa yang kamu bakalan dapet dari novel ini banyak banget. Serius! Meskipun sebenernya jalan ceritanya ketebak, tapi aku menikmati setiap bagian menuju akhir cerita ini.”
“Recommended nggak?”
“Recommended dong! Bagiku, novel itu bagus kalau bisa membuatku tidak berhenti membaca sebelum halaman terakhir, dan bisa menginspirasiku. Bahkan menginspirasi untuk ikut menulis. Dan Morning Light memenuhi keduanya. Empat dari lima bintang lah.”
“Oke, aku pinjam, ya?” kata Nadia akhirnya.
Aku mengangguk mengiyakan. Semakin banyak yang baca, semakin banyak yang akan terinspirasi juga, kan?  

Selasa, 19 November 2013

My Pensieve



Dumbledore: "I use the Pensieve. One simply siphons the excess thoughts from one's mind, pours them into the basin, and examines them at one's leisure. It becomes easier to spot patterns and links, you understand, when they are in this form."
Harry: "You mean... that stuff's your thoughts?"
Dumbledore: "Certainly."



Ada yang tau apa itu Pensieve? Pensieve is seems like an object used to review memories. Yang suka Harry Potter pasti tau.

Well, kalau Dombledore punya Pensieve, saya punya buku harian yang bisa saya gunakan untuk ‘merekam’ jejak kejadian kehidupan saya #tsaaah.

Mungkin bagi sebagian orang, nulis diary itu cemen or apalah gitu, tapi bagi saya menuliskan kejadian-kejadian yang kita alami itu sangat bermanfaat.



Pertama, nulis itu ‘obat’ bagi saya.
Ketika saya sedang penat, pikiran sudah amburadul entah mikir apaan, kacau, saat saya gatau harus menceritakan semuanya sama siapa, saat itulah saya butuh nulis. Nulis itu ngurangin beban, bagi saya. Setelah menuliskan semua unek-unek, menuangkan semua isi pikiran yang tak tersalurkan, saya merasa lega. Jadi apa yang ada dipikiran saya, saya pindahkan ke dalam tulisan, sehingga beban yang dipikiran itu berkurang.

Kedua, diary itu media penyimpan kenangan.
Saya ini tipe orang yang suka menyimpan kenangan—mungkin that’s why saya ini orangnya cenderung susah move on. Dan buku diary adalah salah satu media penyimpan kenangan. Coba aja kita baca ulang diary jaman SMP ata SMA, pasti banyak banget memori yang terputar ulang.

Ketiga, diary itu sarana review dan instropeksi.
Pernah nggak baca tulisan beberapa tahun lalu dan ngerasa kita childish banget? Nah, kata Bang Tere—kalau nggak salah sih, saya pernah baca tulisannya—ketika kamu ngetawain tulisan kamu jaman dulu, itu artinya sudah ada perubahan dalam diri kamu. Itu pertanda bagus, karena bisa jadi kamu sudah semakin dewasa. Justru ketika kamu tidak memiliki respon apa pun, bisa jadi kamu masih sama dengan beberapa tahun lalu dan belum berubah.

Nah, kalau saya sih, dengan baca tulisan-tulisan jaman dulu kita bisa memandang suatu masalah dari sudut pandang lain, bisa instropeksi, dan nemuin pemikiran lain. Meski kenyataannya lebih sering ilfeel kalau habis baca tulisan, soalnya ngerasa : ya ampun aku alay bangeeet! T-T


Saya sendiri sudah mengalami transformasi diary (setdah bahasa gue). Mulai dari diary jaman SD yang isinya “hari ini aku sebel banget soalnya temenku minjem penghapus dan penghapusnya ilang” sampai diary sekarang yang lebih banyak berisi quotes dan pemikiran-pemikiran tentang suatu topik masalah. Termasuk blog ini, ini juga diary saya loh, haha. 

Minggu, 17 November 2013

Link "Dialah Aku"

Bima, errrrr! Dia nggak pernah tahu bagaimana Sinta selalu berusaha menetralisir perasaannya. Bagaimana Sinta selalu berusaha mengubur jauh-jauh perasaannya dan berusaha meyakinkan bahwa mereka berdua hanya sahabatan. Sedangkan Bima sendiri justru sering memberikan perlakuan-perlakuan gentle yang sebenernya selalu sukses bikin dia melting. Dan di sisi lain, Sinta paham betul, bahwa hati Bima tidak untuknya.