Everything happens for a reason. Kayak judul blog ini, hahah. Meskipun kita tidak pernah tahu kapan kita bisa dapet reason dari sebuah kejadian. Bisa sehari kemudian, bisa sebulan, tiga bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian.
Ini tentang sebuah perasaan yang baru tervalidasi 9 tahun kemudian.
Sepertinya aku belum pernah menulis soal mertua-ipar, karena sebenernya memang nggak banyak core memory tentang keluarga suami. Sejauh ini juga mertua-ipar baik, jadi yaaa nggak ada yang perlu diceritakan. Meskipun begitu, namanya hubungan dua orang yang berbeda, pasti tetep ada hal-hal yang tidak pas di hati satu sama lain.
Salah satu core memory ku soal mertua adalah kejadian almost 9 years ago, saat aku melahirkan anak pertama. Fyi, ibu mertuaku adalah pengidap bipolar dan kejadian saat aku akan melahirkan bertepatan dengan fase maniknya beliau. So yaa, ibu mertuaku energinya sedang tumpah ruah, sangat mendominasi, mudah tersinggung, dan sangat sulit untuk dinasehati.
Hari itu, sebenarnya aku pengen berangkat tanpa mertua, tapi karena ibu mertua sedang ingin terlibat di semua momen, akan sangat tidak mungkin meminta beliau untuk di rumah saja--pengalaman kontrol sebelumnya beliau tidak diajak, beliau kurang berkenan. Akhirnya berangkatlah hari itu, bersama dengan ibu mertua yang sepanjang perjalanan mendominasi pembicaraan tanpa bisa disela.
Singat cerita, karena sudah terlalu banyak tumpukan-tumpukan hal yang sebenernya nggak sesuai sama keinginanku, ada momen dimana aku sebel banget nggak pengen beliau ada disitu saat itu. Tapi at the moment aku merasa sebel, aku juga merasa bersalah dan benci diriku karena "Kok bisa kamu sebel sama beliau dan nggak pengen beliau ada di situ padalah beliau ada ibu mertuamu sendiri? Harusnya kamu nggak boleh kayak gitu."
Di saat bersamaan juga aku sedang dalam proses induksi, dalam proses sedang menunggu persalinan yang seharusnya dilalui dengan perasaan tenang, rileks, dan bahagia. Akhirnnya karena rasanya dada udah sesak pengen nangis, aku memutuskan untuk jalan keliling rumah sakit. Alasanku untuk memperbanyak gerak akan persalinan lancar, padahal mah pengen nangis doang wkwkwk. Akhirnya aku jalan muter sambil udah bercucuran air mata.
9 tahun berlalu dari kejadian itu, ada momen dimana bapak mertua dirawat di rumah sakit saat ibu mertua sedang di fase manik. Intinya, di momen itu bapak mertua sempet beberapa kali minta ibu mertua untuk diajak pulang dan tidak perlu menunggu beliau di rumah sakit. Ada momen-momen dimana bapak mertua merasa sebel dan nggak pengen ngomong ke ibu.
Waw, di momen itu rasanya perasaanku 9 tahun yang lalu tervalidasi T-T
Selama ini aku merasa bersalah kalau mengingat perasaan itu, ternyata "Gapapa kok kamu wajar banget ngerasa kayak gitu."
Rasanya langsung pengen meluk diri sendiri dan berterima kasih. Bapak mertua yang udah sepuh dan udah kurleb 35 tahun hidup bersama ibu mertua aja masih bisa ngerasa demikian, apalah aku yang waktu itu baru 24 tahun, baru setahun hidup bersama beliau, dan sedang ada di momen besar dalam hidupku.
Makasih akuuu, yang saat itu meskipun banyak banget *T^&%^$%(@*)i nya tapi bisa melewati prosesnya dengan sangat baik :")
Kalau diinget-inget lagi, waktu awal nikah pun ibu mertua juga sedang fase manik. Saat itu keluarga belum paham kalau ibu mertua bipolar, dan nggak ada yang ngasih kisi-kisi juga wooyyy. Yang selesai acara langsung disuruh muter ke saudara-sadara. Yang malam pertama di rumah suami, jam 11 malem, aku disuruh beresin buffet isi tupperware :D
Yang hari kedua di rumah suami energiku udah habissss dan nangis pengen pulang hiks, wkwkwk. Ternyata kalau diinget-inget, awal nikah se drama itu ya?