Minggu, 26 Oktober 2025

Validated

Everything happens for a reason. Kayak judul blog ini, hahah. Meskipun kita tidak pernah tahu kapan kita bisa dapet reason dari sebuah kejadian. Bisa sehari kemudian, bisa sebulan, tiga bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian. 
  
Ini tentang sebuah perasaan yang baru tervalidasi 9 tahun kemudian.

Sepertinya aku belum pernah menulis soal mertua-ipar, karena sebenernya memang nggak banyak core memory tentang keluarga suami. Sejauh ini juga mertua-ipar baik, jadi yaaa nggak ada yang perlu diceritakan. Meskipun begitu, namanya hubungan dua orang yang berbeda, pasti tetep ada hal-hal yang tidak pas di hati satu sama lain. 

Salah satu core memory ku soal mertua adalah kejadian almost 9 years ago, saat aku melahirkan anak pertama. Fyi, ibu mertuaku adalah pengidap bipolar dan kejadian saat aku akan melahirkan bertepatan dengan fase maniknya beliau. So yaa, ibu mertuaku energinya sedang tumpah ruah, sangat mendominasi, mudah tersinggung, dan sangat sulit untuk dinasehati. 

Hari itu, sebenarnya aku pengen berangkat tanpa mertua, tapi karena ibu mertua sedang ingin terlibat di semua momen, akan sangat tidak mungkin meminta beliau untuk di rumah saja--pengalaman kontrol sebelumnya beliau tidak diajak, beliau kurang berkenan. Akhirnya berangkatlah hari itu, bersama dengan ibu mertua yang sepanjang perjalanan mendominasi pembicaraan tanpa bisa disela. 

Singat cerita, karena sudah terlalu banyak tumpukan-tumpukan hal yang sebenernya nggak sesuai sama keinginanku, ada momen dimana aku sebel banget nggak pengen beliau ada disitu saat itu. Tapi at the moment aku merasa sebel, aku juga merasa bersalah dan benci diriku karena "Kok bisa kamu sebel sama beliau dan nggak pengen beliau ada di situ padalah beliau ada ibu mertuamu sendiri? Harusnya kamu nggak boleh kayak gitu." 

Di saat bersamaan juga aku sedang dalam proses induksi, dalam proses sedang menunggu persalinan yang seharusnya dilalui dengan perasaan tenang, rileks, dan bahagia. Akhirnnya karena rasanya dada udah sesak pengen nangis, aku memutuskan untuk jalan keliling rumah sakit. Alasanku untuk memperbanyak gerak akan persalinan lancar, padahal mah pengen nangis doang wkwkwk. Akhirnya aku jalan muter sambil udah bercucuran air mata. 

9 tahun berlalu dari kejadian itu, ada momen dimana bapak mertua dirawat di rumah sakit saat ibu mertua sedang di fase manik. Intinya, di momen itu bapak mertua sempet beberapa kali minta ibu mertua untuk diajak pulang dan tidak perlu menunggu beliau di rumah sakit. Ada momen-momen dimana bapak mertua merasa sebel dan nggak pengen ngomong ke ibu. 

Waw, di momen itu rasanya perasaanku 9 tahun yang lalu tervalidasi T-T
Selama ini aku merasa bersalah kalau mengingat perasaan itu, ternyata "Gapapa kok kamu wajar banget ngerasa kayak gitu." 

Rasanya langsung pengen meluk diri sendiri dan berterima kasih. Bapak mertua yang udah sepuh dan udah kurleb 35 tahun hidup bersama ibu mertua aja masih bisa ngerasa demikian, apalah aku yang waktu itu baru 24 tahun, baru setahun hidup bersama beliau, dan sedang ada di momen besar dalam hidupku. 

Makasih akuuu, yang saat itu meskipun banyak banget *T^&%^$%(@*)i nya tapi bisa melewati prosesnya dengan sangat baik :")

Kalau diinget-inget lagi, waktu awal nikah pun ibu mertua juga sedang fase manik. Saat itu keluarga belum paham kalau ibu mertua bipolar, dan nggak ada yang ngasih kisi-kisi juga wooyyy. Yang selesai acara langsung disuruh muter ke saudara-sadara. Yang malam  pertama di rumah suami, jam 11 malem, aku disuruh beresin buffet isi tupperware :D
Yang hari kedua di rumah suami energiku udah habissss dan nangis pengen pulang hiks, wkwkwk. Ternyata kalau diinget-inget, awal nikah se drama itu ya?

Selasa, 21 Oktober 2025

Catatan Aisha: 13 Bulan

One year just like a blink of en eye. Padahal kalau lihat-lihat lagi foto Aisha, kayak percaya nggak percaya dia dulu secimit itu, tiba-tiba udah bisa kemana-mana. Here we go rapelan cerita Aisha dari umur 10 bulan:

Motorik kasar

  • Umur 10 bulan lebih dikit (Juli 2025) sudah mulai bisa jalan 3 langkah
  • Naik turun kasur sudah jago, ya gimana enggak dari kecil terbiasa naik turun tangga. Cukup aware dengan ketinggian dan bisa memperkirakan, jadi kalau dia tahu dia akan jatuh, dia memilih untuk mengulurkan tangan minta gendong.
  • Bisa mengangkat kaki satu untuk menendang bola
  • Sudah lincah berjalan di beda ketinggian, misal lantai teras dan lantai rumah, sudah tidak perlu berpegangan
  • Beberapa hari yang lalu sudah bisa berjalan mundur, bisa muter-muter. Mulai sering berjalan cepet meskipun masih sempoyongan.

Motorik halus

  • Bisa “dadaa” di usia 10 bulan, tiap ada yang mau pergi udah reflek melambaikan tangan. Sudah bisa diajak salim.
  • Meletakkan jepitan di kepala.
  • Pegang pencil corat-coret
  • Memasukkan benda ke lubang kecil, contoh uang koin ke celengan. Bisa main pop it.
  • Bisa makan sendiri pakai tangan, tapi kalau sendok arahnya sudah benar meskipun masih belepotan dan jatuh-jatuh.

Bahasa

  • Di usia 13 bulan, kata yang berarti baru: emam, dada, baaa (ciluk ba). Sering banget dia eh ehhh ehhh gitu kayak orang gabisa ngomong hiks, ini kayaknya sama kayak ibunya dulu wkwk.
  • Selebihnya dia masih teriak-teriak tidak jelas, apitt ebedaaa papaaa seolah-olah bisa ngobrol. Waktu bermain mic, Ketika disodori mic dia akan ngoceh tidak jelas.
  • Sudah mulai bisa memahami perintah verbal: duduk, pakai celana, sini ak, dada, salim, sayang, pusing, layang-layang mana?

Kognitif

  • Sudah mulai bisa “niteni” sebuah pola, contoh: kalau ibuk pakai kerudung, berarti mau keluar maka kalau dia pengen jalan-jalan keluar dia akan minta ibuk pakai kerudung, menunjuk gendongan, lalu menunjuk pintu dan mengarahkan ingin pergi kemana
  • Mulai hapal dengan benda-benda di jalan, misal di rumah X dia biasa melihat ayam, di rumah Y biasa melihat burung.
  • Jika meminta ibuk tidak mau, sudah punya akal dia akan meminta bude.
  • Pernah dia menemukan roda mobil mainan, lalu diambil, dan dia mencari mobil mainan di rak dan di satukan.
  • Dia paham kalau colokan di bawah biasanya untuk colokan blender, lalu minta diambilin blender, dan bilang emam.
  • Plisss jangan meleng sedikitpun karena semua-mua akan dimasukkan ke mulut.

Personal Sosial

  • Pernah suatu ketika diajak nungguin kakak psikotes, lalu bertemu dengan anak seusianya yang membawa boneka lalu dia reach out duluan dan meminta bonekanya, wkwkwk. Sungguh bukan anak ibuk Hanif banget.
  • I loveee the way she looked at me pas pulang kerja, huhu, precious moment.
  • Dia udah bisa menunjukkan keinginannya dengan menunjuk, atau menarik tangan orang mengikuti ke arah yang dia inginkan.
  • Kalau kakaknya itu life must by the rule, kalau adeknya ini break the rule, haha.
  • Agak susah diajakin deep talk atau dinasehatin.
  • Di tempat baru langsung eksplor dan bermain layaknya bocah-bocah yang lain.
Fiuhhh leganyaaa bisa nulis ini. Haha. Seperti keharusan padahal bukan, tapi kalau sudah ditulis rasanya lega nggak punya utang.

Satu hal yang baru ku sadari sekarang, kalau di era Aira aku banyak membenci diriku dan menyalahkan diriku, di era Aisha ini aku makin menyayangi dan mencintai diri sendiri. I love myself, aku banyak berterima kasih kepada diriku yang sudah through ups and downs. Huhuu, bisa gitu yaa. Tiap anak membawa pelajaran masing-masing, mereka adalah modul untuk orang tuanya.